Tolak AI Dipakai untuk Militer, Peneliti Google DeepMind Resign

CNN Indonesia
Senin, 26 Okt 2026 13:45 WIB

Google merupakan salah satu dari sejumlah perusahaan teknologi yang menandatangani kontrak dengan militer AS pada awal tahun ini untuk menerapkan AI diberbagai lingkungan militer yang bersifat rahasia. Kontrak ini mengizinkan teknologi AI perusahaan tersebut digunakan untuk pekerjaan militer yang bersifat rahasia.

Dalam perjanjian tersebut disebutkan model AI Google dapat digunakan untuk "segala tujuan pemerintah yang sah secara hukum". Namun, teknologi tersebut "tidak boleh digunakan untuk pengawasan massal terhadap warga sipil dalam negeri atau senjata otonom tanpa pengawasan dan kendali manusia yang sesuai."

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seiring perkembangan teknologi yang semakin cepat, BBC menyebut kekahwatiran terhadap penggunaan AI di medan perang semakin meningkat.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menjadikan integrasi AI ke dalam angkatan bersenjata sebagai prioritas utama. Ia mengatakan pemerintahan Trump akan menjadikan milter AS sebagai kekuatan tempur yang mengutamakan AI.

Kesepakatan serupa juga ditandatangani oleh OpenAI, Amazon, Microsoft, SpaceX, Oracle, Nvidia dan perusahaan rintisan Reflection. Kesepakatan ini memungkinkan teknologi AI digunakan dalam berbagai kegiatan militer seperti transportasi, perencanaan, dan operasi di medan perang.

Sarah Shoker, eks kepala tim Geopolitik OpenAI turut menyampaikan pendapatannya. Ia khawatir terhadap penggunaan AI di medan perang yang kian meningkat.

"AI memangkas waktu yang dimiliki seorang operator untuk mengambil keputusan karena AI bekerja jauh lebih cepat daripada manusia. Hal ini sangat berisiko, terutama dalam situasi yang penuh tekanan," kata Sarah.

"Ketika ada ratusan terget yang dipilih oleh AI dan waktu yang tersedia sangat singkat, hampir mustahil bagi operator manusia untuk memeriksa hasil yang diberikan oleh AI secara menyeluruh dan memastikan tidak ada kesalahan," tambahnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, militer AS telah menerapkan berbagai teknologi berbasis AI untuk meningkatkan kemampuan tempurnya.

Salah satu contoh yang paling menonjol adalah Maven Smart System, platform perangkat lunak utama Pentagon yang digunakan untuk mengelola informasi intelijen dan data.

Platform ini dikembangkan oleh perusahaan AS bernama Palantir. Sistem ini menggunakan AI untuk membantu personel militer memilih dan mengidentifikasi target serangan.

Palantir telah mengintegrasikan teknologi dari sejumlah perusahaan AI terkemuka ke dalam Maven. Integrasi ini disebut memungkinkan beberapa proses dilakukan jauh lebih cepat.

Letnan Jenderal Purnawirawan sekaligus mantan direktur Project Maven, Jack Shananhan mengatakan bahwa filosofi yang diterapkan tampaknya adalah sebisa mungkin bergerak cepat untuk menerapkan teknologi AI secara luas, meskipun hal itu berpotensi mengorbankan ketelitian dan kedisiplinan dala proses pengujian serta evaluasi.

Namun, Pentagon tetap berpendapat bahwa penggunaan teknologi AI sangat penting untuk peperangan.

"Kecepatan menentukan kemenangan di era AI," kata Emil Michael, salah satu pejabat tinggi di Pentagon dalam sebuah pernyataan terpisah awal tahun ini.

(nad/dmi)

HALAMAN:
1 2