Kumulonimbus diduga membuat QZ8501 yang membawa 155 penumpang dan tujuh awak itu celaka setelah terjebak di dalamnya. Seberapa besar sesungguhnya pengaruh kumulonimbus bagi penerbangan? Mukhamad Sofii yang saat ini menjadi pilot untuk maskapai Kalstar Air, berbagi kisahnya bertemu si awan badai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria yang juga teman kerja Irianto ini merasa sangat beruntung bisa selamat. "Efek kumulonimbus dahsyat. Semakin ke atas, dampaknya semakin kuat, apalagi kalau awannya besar," kata Sofii.
Menurut pria bertubuh tegap ini, kumulonimbus memang berbahaya bagi penerbangan. Sebisa mungkin, hindari awan itu. "Terlebih kalau lihat di radar soal QZ8501, awannya nge-block. Awan itu bisa membuat pesawat terlempar ke atas atau ke bawah," kata Sofii.
Sebelumnya, kisah memasuki kumulonimbus juga dibeberkan oleh pilot Garuda Indonesia, Abdul Rozaq. Saat itu ia terjebak dalam awan badai dalam kondisi putus komunikasi dengan menara pemantau lalu-intas udara atau air traffic controller (ATC). Pesawat pun tak bisa bermanuver ke kanan atau ke kiri karena ada gunung menjulang. Akhirnya pesawat turun ketinggian dengan drastis, dan mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo. (Baca selengkapnya: Kisah Pilot Garuda Lolos Awan Badai dengan Pesawat Crash).