Perubahan iklim drastis mendorong habitat satwa liar ini terancam di seluruh dunia. Studi terbaru mengungkapkan bahwa 75 persen terumbu karang yang tersisa di dunia telah terancam, bahkan telah mati dan hilang. Ada banyak karang tertentu yang telah kehilangan spesiesnya.
Suhu laut yang tinggi
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika kita menyelam ke dalam lautan, bukankah ada banyak terumbu karang berwarna cantik? Nah warna-warna cantik itu dihasilkan dari ganggang yang melekat pada terumbu karang. Jika suhu tinggi, keberadaan gangang ini merasa terancam dan berkurang, sehingga jadilah terumbu karang yang pucat tidak cantik lagi.
Tanpa adanya lapisan microalga ganggang dan suhu laut yang tinggi mengakibatkan mudahnya terumbu karang terserang penyakit karena menjadi sarang organisme penyakit. Sama seperti manusia, lama kelamaan terumbu karang yang sakit akan rapuh dan mati.
Pengasaman laut
Kadar Karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan ke atmosfer, memiliki efek yang buruk pada lautan. Perlu kalian ketahui, keberadaan terumbu karang di dalam lautan berfungsi untuk mengontrol kadar Karbon dioksida (CO2) yang ada di udara agar tidak meracuni manusia, sama halnya dengan hutan yang ada di daratan.
Tapi pada saat ini kadar karbon dioksida jauh lebih banyak dari terumbu karang dan hal itu membuat laut menjadi lebih asam, meningkat menjadi 25 persen. Sayangnya asam ini membuat terumbu karang tumbuh menjadi kerdil dan sulit baginya untuk tumbuh.
Sedih bukan, jika mengetahui banyak terumbu karang yang sedang sakit saat ini. Sebanyak 75 persen populasinya kini sudah terlihat putih layaknya rambut manusia yang beruban. Begitulah kondisi terumbu karang saat ini. (ded/ded)