Setelah itu sang anak akan melanjutkan proses belajar menulis dan membaca mereka di bangku Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Tanpa disadari sejak anak-anak masuk bangku sekolah itulah orangtua langsung lepas tangan mengenai proses belajar membaca dan menulis si anak, seolah guru telah memberikan segalanya kepada si anak di bangku sekolah.
Menurut J.S Badudu yang kita kenal sebagai ahli tata bahasa Indonesia, di negara ini pendidikan mengenai sastra khususnya sastra Indonesia sangat ironi dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang tidak maksimal di bangku sekolah, khususnya di lingkup SD, yang adalah pondasi untuk pemahaman anak-anak mengenai cara belajar berbahasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sangat berbanding terbalik dengan negara maju. Dapat disimpulkan bahwa negara maju ialah negara yang masyarakatnya memiliki literasi membaca yang bagus.
Di SMP dan SMA pun juga tidak beda dengan di SD, pelajaran Bahasa Indonesia dengan metode yang konvensional, bersifat hafalan dan dijejali teori-teori yang sulit di terima siswa.
Biasanya siswa diberi tugas untuk membaca dan menulis sebuah karangan. Akan tetapi tidak sepenuhnya siswa akan membaca apa yang diperintahkan guru, karena guru hanya memberikan tugas tanpa memberi arahan-arahan ataupun hal yang membuat anak mau tidak mau harus membaca. (ded/ded)