Ledakan bintang itu disebut Supernova 1987A, terjadi pada jarak 160.000 tahun cahaya dari Bumi. Lokasinya di sebuah galaksi satelit di Tata Surya, yang dikenal dengan Awan Magellanic Besar.
Saat ditemukan pada 30 tahun lalu, supernova itu yang paling terang dan paling dekat ke Bumi. Sehingga astronom bisa mempelajari bagaimana sebelum, saat, dan sesudah fenomena kematian bintang itu terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Tapi dengan mempelajari evolusi Supernova 1987A pada detail yang luar biasa, memakai teleskop di antariksa dan di Bumi, astronom mendapatkan pemahaman yang revolusioner mengenai kematian bintang yang masif,” demikian pernyataan ESA seperti dikutip Space.com, baru-baru ini.
Saat mendekati kematiannya, bintang itu memanas dan melepaskan angin yang lebih kencang sehingga lemparan material pun makin cepat.
Karena proses yang lama seperti itu, itulah sebabnya, kita masih bisa melihat supernova itu sampai hari ini. (ded/ded)