Berdasarkan pandangan mata, hampir seluruh angkutan umum dari berbagai trayek masih mengangkut penumpang. Beberapa di antaranya adalah Mikrolet 04 (Pasar Minggu-Depok), Mikrolet 112 (Kampung Rambutan-Depok), S19 milik Koperasi Wahana Kalpika (Kampung Rambutan-Depok), Mikrolet D02 (Terminal Depok-Simpangan), Metromini 75 (Blok M-Pasar Minggu) dan Kopaja 620 Eksekutif AC (Ragunan-Semanggi).
Sejumlah armada taksi juga masih beroperasi seperti biasa, antara lain Blue Bird, Express, dan Taxiku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keberatan sih keberatan, tapi kalau mogok keluarga saya tidak makan. Bos saya juga tidak mau tahu, setoran harus tetap jalan," ujarnya kepada CNN Indonesia, Rabu (18/11).
"Tarif baru memang belum keluar menunggu Organda. Tapi saya sih minta kesediaan dari penumpang saja untuk bayar lebih. Kalau biasanya Rp 3.000 sekarang jadi Rp 4.000. Malah syukur-syukur ada yang bayar Rp 5.000," kata Santoso.
Sementara Kopaja Eksekutif AC 620 yang biasanya menarik bayaran Rp 5.000 per penumpang, per hari ini sudah mulai mengenakan tarif Rp 6.000 per penumpang.
Sebelumnya Ketua Umum Organda Eka Sari Lorena Soerbakti menginstruksikan seluruh anggotanya untuk melakukan aksi mogok nasional mulai Rabu (19/11) pukul 00.00 WIB. Aksi tersebut merupakan bentuk protes atas kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi.
M Siburian, Ketua Organda Unit Taksi DKI Jakarta, mengaku siap mengikuti arahan pimpinannya dengan menginstruksikan 24 ribu taksi di Ibu Kota berhenti beroperasi.
"Anggota kami punya 24 ribu armada taksi dari 30 perusahaan di Jakarta. Kalau komandan bilang mogok, ya kita ikut," ujarnya, Selasa (17/11).