Dampak Kenaikan Harga BBM

Ancaman Mogok Organda Tidak Terbukti

Gentur Putro, CNN Indonesia | Rabu, 19/11/2014 09:30 WIB
Ancaman Mogok Organda Tidak Terbukti Angkutan Umum di Jakarta berencana akan melakukan aksi mogok karena kenaikan harga BBM bersubsidi (19/11). (CNN Indonesia/Gentur Putro Jati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ancaman mogok Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) pada Rabu (18/11) belum terbukti. Pantauan CNN Indonesia di daerah Jakarta Selatan dan Depok, sampai saat ini angkutan umum jenis bus, mikrolet, dan taksi masih tetap beroperasi seperti biasa.

Berdasarkan pandangan mata, hampir seluruh angkutan umum dari berbagai trayek masih mengangkut penumpang. Beberapa di antaranya adalah Mikrolet 04 (Pasar Minggu-Depok), Mikrolet 112 (Kampung Rambutan-Depok), S19 milik Koperasi Wahana Kalpika (Kampung Rambutan-Depok), Mikrolet D02 (Terminal Depok-Simpangan), Metromini 75 (Blok M-Pasar Minggu) dan Kopaja 620 Eksekutif AC (Ragunan-Semanggi).

Sejumlah armada taksi juga masih beroperasi seperti biasa, antara lain Blue Bird, Express, dan Taxiku.


Dedi (37), sopir Mikrolet 04, mengaku enggan mengikuti anjuran Organda untuk mogok nasional karena tuntutan ekonomi. Secara pribadi Dedi keberatan dengan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi), tetapi tidak mungkin berhenti bekerja karena ada kewajiban menafkahkan keluarga dan setoran ke pemilik kendaraan yang dibawanya.

"Keberatan sih keberatan, tapi kalau mogok keluarga saya tidak makan. Bos saya juga tidak mau tahu, setoran harus tetap jalan," ujarnya kepada CNN Indonesia, Rabu (18/11).

Santoso (49), sopir KWK S19 yang tengah menunggu penumpang di terminal Kampung Rambutan mengaku tidak menerima perintah dari pemilik angkutan yang dikemudikannya untuk mogok hari ini.

"Tarif baru memang belum keluar menunggu Organda. Tapi saya sih minta kesediaan dari penumpang saja untuk bayar lebih. Kalau biasanya Rp 3.000 sekarang jadi Rp 4.000. Malah syukur-syukur ada yang bayar Rp 5.000," kata Santoso.

Sementara Kopaja Eksekutif AC 620 yang biasanya menarik bayaran Rp 5.000 per penumpang, per hari ini sudah mulai mengenakan tarif Rp 6.000 per penumpang.

Sebelumnya Ketua Umum Organda Eka Sari Lorena Soerbakti menginstruksikan seluruh anggotanya untuk melakukan aksi mogok nasional mulai Rabu (19/11) pukul 00.00 WIB. Aksi tersebut merupakan bentuk protes atas kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi.

M Siburian, Ketua Organda Unit Taksi DKI Jakarta, mengaku siap mengikuti arahan pimpinannya dengan menginstruksikan 24 ribu taksi di Ibu Kota berhenti beroperasi.

"Anggota kami punya 24 ribu armada taksi dari 30 perusahaan di Jakarta. Kalau komandan bilang mogok, ya kita ikut," ujarnya, Selasa (17/11).