EKSPOLITASI LAUT
Menteri Susi: Tuna Kita Terbanyak tapi Dieksploitasi Asing
CNN Indonesia
Kamis, 27 Nov 2014 14:08 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan potensi kelautan Indonesia itu besar tapi tak jarang malah lebih banyak dieksploitasi pihak asing.
Sebagai contoh adalah anak-anak tuna dan tuna muda yang populasinya termasuk terbanyak di perairan Indonesia. “We are the only one in the world who have it. Tapi negara-negara lain mengeksploitasi ikan tersebut,” kata Menteri Susi geram, di Jakarta, Kamis (27/11).
Anak-anak tuna dari Indonesia, kata Susi, dibawa untuk dibudidayakan di negara-negara asing.
Menteri Susi mengatakan, karena kebijakan lama mengizinkan kapal ikan asing masuk ke Indonesia, mereka menggunakan rumpon senilai Rp 200 juta hingga Rp 300 juta untuk memancing anak tuna dalam jumlah besar.
Lokasinya antara lain di Teluk Tomini, Sulawesi. “Bagaimana caranya nelayan kita yang bermodal kecil bisa bersaing dengan kapal-kapal asing bermodal besar itu?” kata Susi bertanya.
Susi menilai kapal-kapal asing itu sudah melakukan penangkapan ikan berlebihan dan itu tak bisa dibiarkan.
Menteri Susi sudah memberlakukan berbagai kebijakan seperti moratorium kapal-kapal asing, menghentikan pemindahan hasil ikan (transhipment) di tengah laut, menyempurnakan sistem perizinan usaha tangkap, modernisasi data dan informasi perikanan, dan memberlakukan Vessel Monitoring System untuk mengawasi kapal-kapal masuk ke Indonesia.
Sebagai contoh adalah anak-anak tuna dan tuna muda yang populasinya termasuk terbanyak di perairan Indonesia. “We are the only one in the world who have it. Tapi negara-negara lain mengeksploitasi ikan tersebut,” kata Menteri Susi geram, di Jakarta, Kamis (27/11).
Anak-anak tuna dari Indonesia, kata Susi, dibawa untuk dibudidayakan di negara-negara asing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lokasinya antara lain di Teluk Tomini, Sulawesi. “Bagaimana caranya nelayan kita yang bermodal kecil bisa bersaing dengan kapal-kapal asing bermodal besar itu?” kata Susi bertanya.
Susi menilai kapal-kapal asing itu sudah melakukan penangkapan ikan berlebihan dan itu tak bisa dibiarkan.