INDUSTRI TEKSTIL
Sritex Jajaki Akuisisi Merek Pakaian Jadi
CNN Indonesia
Selasa, 02 Des 2014 16:42 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex, perusahaan tekstil dan garmen asal Solo berencana melakukan penetrasi hingga ke sektor pucuk hilir dengan merangsek ke sektor usaha ritel fesyen.
Direktur Utama Sritex Iwan Setiawan Lukminto mengatakan rencana perseroan untuk terjun ke sektor ritel masih dalam pengkajian. Rencana itu dilakukan untuk mengembangkan sayap pemasaran perseroan dalam tiga tahun ke depan guna menambah pangsa pasar.
"Yang penting sesuai dengan manufacturing dan produk yang kita kembangkan,” kata Iwan dalam paparan publik di Jakarta, Selasa (2/12).
Sementara Wakil Direktur Utama Sritex Iwan Kurniawan Lukminto menambahkan, ada beberapa opsi dalam merangsek ke sektor ritel seperti joint venture, pengembangan brand pribadi dan akuisisi brand lain.
“Tapi saya lebih memilih akuisisi brand atau mengembangkan brand sendiri. Untuk akuisisi yang akan diutamakan adalah brand lokal,” ungkapnya.
Terkait pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, manajemen Sritex menilainya bukan suatu masalah karena transaksi perseroan dalam mata uang dolar sekitar 70 persen. Di tahun depan, perseroan berencana menggunakan laporan keuangan dengan nominal dolar.
“Hal itu kami lakukan untuk menghilangkan kerugian kurs,” ujar Direktur Keuangan Sritex Allan Moran Severino dalam kesempatan yang sama.
Direktur Utama Sritex Iwan Setiawan Lukminto mengatakan rencana perseroan untuk terjun ke sektor ritel masih dalam pengkajian. Rencana itu dilakukan untuk mengembangkan sayap pemasaran perseroan dalam tiga tahun ke depan guna menambah pangsa pasar.
"Yang penting sesuai dengan manufacturing dan produk yang kita kembangkan,” kata Iwan dalam paparan publik di Jakarta, Selasa (2/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Tapi saya lebih memilih akuisisi brand atau mengembangkan brand sendiri. Untuk akuisisi yang akan diutamakan adalah brand lokal,” ungkapnya.
Terkait pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, manajemen Sritex menilainya bukan suatu masalah karena transaksi perseroan dalam mata uang dolar sekitar 70 persen. Di tahun depan, perseroan berencana menggunakan laporan keuangan dengan nominal dolar.
“Hal itu kami lakukan untuk menghilangkan kerugian kurs,” ujar Direktur Keuangan Sritex Allan Moran Severino dalam kesempatan yang sama.