Ketua Asosiasi Pengusaha Ekspor dan Produsen Handicraft Indonesia (ASPEHI) Thamrin Bustami menjelaskan selama lima hari Inacraft berlangsung, dirinya memperkirakan nilai transaksi yang bisa dikantongi para pengrajin mencapai Rp 245 miliar.
“Terdiri dari Rp 115 miliar transaksi pembeli dalam negeri, dan sekitar US$ 10 juta atau setara Rp 130 miliar dari pembeli di luar negeri,” ujar Thamrin di Jakarta, Senin (9/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peserta Inacraft 2015 berasal dari produsen dan pengrajin, eksportir dan importir, kolektor, asosiasi produsen kerajinan, instansi pembina perajin, BUMN/BUMD, pemerintah provinsi, pemerintah kota, pemerintah daerah, dinas seluruh Indonesia, Dekranasda, perbankan dan perusahaan penunjang lainnya akan ikut meramaikan acara ini.
"Ada empat negara yang juga ikut mendaftar sebagai peserta pameran diantaranya Iran, India, Pakistan, Thailand, Uni Emirat Arab dan Malaysia. Jadi bukan hanya dari Indonesia,” kata Thamrin.
Dengan mengusung tema ‘From Smart Village to Global Market’, Inacraft menaungi dan memfasilitasi produk-produk kerajinan tersebut untuk bisa naik ke jenjang yang lebih tinggi baik dari segi komersil maupun segi estetika seni.
Manfaatkan Pelemahan Rupiah
Terkait dengan tren pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Thamrin memastikan hal tersebut mampu menguntungkan para peserta pameran Inacraft. Dengan harga barang pameran yang menjadi lebih tinggi diharapkan mampu menggenjot nilai ekspor.
“Buyer asing datang bawa dolar untuk transaksi ke pameran, otomatis jumlah dolar di dalam negeri bisa bertambah," ujar Thamrin.
Tahun lalu, nilai transaksi kerajinan tangan sendiri mampu menyumbang 1 hingga 2 persen untuk devisa negara dengan nilai ekspor menembus US$ 110 miliar dengan negara tujuan Amerika, Eropa, Jepang, Korea Selatan, Kanada dan Timur Tengah. (gen)