Usaha Kecil Lebih Resisten Terhadap Depresiasi Rupiah

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 13/03/2015 16:42 WIB
Tingginya kandungan lokal bahan baku yang digunakan pengusaha UKM, membuat pengusaha kecil tidak dipusingkan dengan kurs. Seorang pekerja menyelesaikan proses produksi Sepatu kulit di Bengkel produksi Grutty, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jenis Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dinilai Kementerian Perdagangan (Kemendag) memiliki daya tahan yang lebih baik dalam menghadapi krisis dan gejolak nilai tukar ketimbang industri berskala besar. Tingginya kandungan lokal (local contentnya) bahan baku yang digunakan pengusaha UKM dalam memproduksi barang jualannya menjadi faktor pendukung daya tahan tersebut.

“Produk-produknya itu kan local content-nya sangat tinggi jadi tanpa adanya bahan baku impor yang harus dibeli dengan dolar, mereka tetap melakukan produksi,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Nus Nuzulia Ishak ketika ditemui CNN Indonesia di kantornya, Jumat (13/3).

Nus mencontohkan, produk perabotan atau furniture pada 2014 nilai ekspornya mencapai US$ 1,8 miliar dengan kandungan lokal mencapai 90 persen. Nilai ekspor tersebut naik 4 persen dibandingkan realisasi ekspor 2013. Dengan demikian pengusaha furniture tidak dipusingkan dengan mahalnya impor bahan baku ketika terjadi pelemahan nilai tukar rupiah atau depresiasi. Bahkan dengan adanya depresiasi nilai tukar, produk ini menjadi lebih diminati di pasaran internasional.

Selain itu, lanjut Nus, tingginya daya tahan pengusaha UKM juga disebabkan oleh pinjaman permodalan yang dibuatnya dengan bank dilakukan dalam nominal rupiah sehingga tidak memiliki risiko rugi kurs saat membayar kembali pinjaman sekaligus bunganya.


“Kalau pengusaha-pengusaha besar kan kadang meminjam dalam bentuk dolar,” kata Nus. (gen)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK