Kurs tengah rupiah ditransaksikan melemah 0,11 persen terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (13/3). Berdasarkan data BI, kurs tengah rupiah bertengger di level Rp 13.191 per dolar AS, dari kurs tengah sebelumnya Rp 13.176 per dolar AS.
"Arah kebijakan BI akan fokus pada menjaga stabilitas ekonomi makro dan posisi kita secara moneter cautious dan bias ketat," kata Agus saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun kita juga punya arah kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan tetap menjaga cadangan devisa yang sehat karena kita ingin bahwa secara umum ada keseimbangan," katanya.
"BI akan mendorong perbankan untuk mempersiapkan fasilitas lindung nilai dan pertemuan antara yang membutuhkan dan menawarkan lindung nilai," ujarnya.
Intervensi BI Diharap Moderat
Sementara itu, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, harus diakui, nilai tukar rupiah ikut terseret pelemahan hampir semua mata uang utama terhadap dolar AS. Apalagi, adanya wacana penurunan suku bunga AS menjadi pemicu yang dinilai besar.
“Bank Indonesia pun saya kira memliki wacana untuk menurunkan suku bunga. Kita memang sedang memasuki era di mana pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu fokus,” ujarnya kepada CNN Indonesia, Jumat (13/3).
Namun, di sisi lain, meskipun rupiah terus melemah dalam jangka waktu dekat, Satrio menilai sebaiknya Bank Indonesia melakukan intervensi dalam ranah yang moderat. Jangan sampai malah terjadi adanya pemborosan.
“Kita tunggu saja sampai data ekonomi Indonesia pada kuartal I keluar pada bulan depan. Jangan terlampau panik. Jika datanya positif, maka tidak ada yang salah dengan perekonomian kita,” jelas Satrio.
Senada, Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan faktor utama pelemahan rupiah adalah secara eksternal yaitu potensi kenaikan suku bunga acuan AS. Tekanan semakin membesar karena BI rate dipangkas dan masih ada potensi pemangkasan lagi karena terjadi deflasi di bulan Februari.
“Namun menurut saya BI sebaiknya melakukan intervensi moderat seperti yang dilakukan selama ini. Hal itu cukup untuk menghambat laju pelemahan agar tidak terlalu volatile,” jelasnya kepada CNN Indonesia. (gir/gir)