"Padahal pemerintah pernah menjanjikan untuk membuat keputusan pada bulan Februari 2015, atau setelah Pertamina menyampaikan proposal pengelolaan. Karena sampai sekarang belum diputuskan, jadi wajar kalau kami bertanya ada apa sebenarnya," cetus Marwan di Jakarta, Selasa (17/3).
Berangkat dari hal itu, ia pun mendesak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said segera menetapkan secara resmi status pengelola blok yang ditaksir masih memiliki kandungan gas mencapai 4 trillion cubic feet (TCF) tersebut. Ini dilakukan menyusul kian dekatnya batas akhir kontrak pengelolaan Mahakam yang saat ini dipegang oleh Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Marwan mengatakan, sejatinya pula dalam putusan kontrak blok Mahakam pemerintah berperan aktif memastikan penyerahan 10 persen saham Pertamina di blok Mahakam kepada Pemprov Kaltim dan Pemkab Kutai Kartanegara.
"Partisipasi pemda dalam kepemilikan saham Blok Mahakam sebaiknya bersama Pertamina dengan membentuk konsorsium. Jadi tidak perlu melibatkan perusahaan swasta," tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Sudirman telah memberi lampu hijau kepada Pertamina untuk menguasai sekaligus melanjutkan pengelolaan blok yang dikelola Total sejak 1967 silam. Dalam pernyataannya beberapa waktu lalu, mantan bos PT Pindad itu juga sudah mendapat mandat dari Presiden Joko Widodo untuk bisa memutuskan status blok dalam waktu satu bulan kedepan.
"Biarkan Pertamina yang mengatur. (Tapi) sampai saat ini belum ada pembagian apa-apa," ujar Sudirman.