Pertamina Didesak Transparan Soal BBM Impor

Diemas Kresna Duta , CNN Indonesia | Selasa, 24/03/2015 14:18 WIB
Pertamina Didesak Transparan Soal BBM Impor Menteri BUMN Rini M Soemarno (kanan) saat mengumumkan Dwi Soetjipto (kiri) Direktur Utama PT Pertamina, di Kementrian BUMN, Jakarta, Jumat 28 November 2014. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat energi Yusri Usman mendesak PT Pertamina (Persero) agar transparan dalam membeberkan data-data mengenai pengadaan produk bahan bakar minyak (BBM) dan minyak mentah impor. Desakan ini diutarakan menyusul penemuan fakta yang menyebutkan bahwa mayoritas minyak mentah sudah dibuat kontrak pembeliannya oleh manajemen Pertamina Energy Trading Limited (Petral) akhir tahun lalu, atau sebelum kewenangan pengadaan minyak impor dipindah ke divisi pengadaan minyak Pertamina, Integrated Supply Chain (ISC).

"Petral dari dulu selalu dijadikan tumbal oleh Direksi Pertamina karena ujung-ujungnya yang memutuskan pembelian minyak impor itu ISC Pertamina. Kalau benar-benar sudah melakukan transformasi, apa salahnya jika data maupun dokumen yang ada di buka," ujar Yusri di Jakarta, Selasa (24/3).

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri, sebanyak 6 juta dari 9 juta barel minyak mentah per bulan yang akan diimpor ISC tahun ini telah diamankan Petral dengan tenor kontrak selama 6 bulan. Berangkat dari hal tersebut, Yusri pun meminta pemerintah dan Direksi Pertamina yang baru segera melakukan audit ketat terhadap dokumen mengenai pengadaan minyak impor.


Ini dilakukan untuk mengetahui secara jelas mengenai data pengadaan minyak impor berikut nama-nama perusahaan pemenang tender. "Karena Petral merupakan anak perusahaan, kalau ditemukan ada permainan ya silakan diproses secara hukum dan copot pejabatnya. Di Petral itu ada dua anggota Direksi yang duduk sebagai komisarisnya," ungkap Yusri.

Sayangnya, sampai berita ini diturunkan Vice Presiden ISC Daniel Purba masih belum membalas pertanyaan melalui pesan singkat. Padahal pekan lalu Daniel berjanji akan membuka data-data mengenai minyak impor yang sudah diamankan manajemen Petral di era Bambang Irianto menjabat sebagai Presiden Direktur. "Saya sedang di Karimun, Kepulauan Riau. Minggu depan saya respons," ujar Daniel tengah pekan lalu.

Sebelumnya, Faisal Basri menjelaskan bahwa impor BBM yang sudah dibuat Petral memiliki tenor enam bulan atau hingga Juni 2015 mendatang. "Mereka betul-betul mengantisipasi rekomendasi tim dengan melakukan ini. Biasanya kontrak itu tiga bulan, tapi sekarang sudah di cover enam bulan. Ini merupakan bentuk dan cara mafia," jelasnya. (dim/gen)