Genjot Ekspansi Bisnis 2015, PT Timah Bidik Laba Rp 1 Triliun
Galih Gumelar | CNN Indonesia
Kamis, 26 Mar 2015 16:56 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- BUMN pertambangan, PT Timah Tbk menargetkan laba bersih sebesar Rp 1 triliun pada tahun ini menyusul rencana ekspansi dan diversifikasi bisnis perseroan.
"Apa yang sudah kami lakukan, kami kejar dan kami telah sampaikan kepada pemegang saham kalau kami siap untuk kejar laba hingga Rp 1 triliun di tahun ini," ujar Direktur Utama PT Timah Sukrisno di Jakarta, Rabu (26/3).
Target laba perusahaan tersebut meningkat 56,75 persen dibandingkan dengan perolehan tahun lalu yang mencapai Rp 637,96 miliar. Angka pertumbuhan laba ini juga lebih besar dibanding pertumbuhan tahun lalu yang sebesar 23,85 persen.
Meskipun tergolong tinggi, Sukrisno optimistis target tersebut tercapai mengingat perseroan telah mendapat persetujuan pemegang saham untuk mengurangi dividen untuk mendukung pembiayaan proyek-proyek perusahaan yang mencapai Rp 1,2 triliun.
Beberapa proyek yang kini sedang diselesaikan oleh PT Timah antara lain pembangunan Rare Earth Element (REE) di Bangka Barat dengan nilai investasi mencapai Rp 130 miliar, yang dibangun di atas lahan seluas 108 hektar. REE ini diharapkan mulai beroperasi pada bulan Juni mendatang.
Selain itu, PT Timah juga akan membangun smelter di Kundur, Kepulauan Riau dengan nilai investasi mencapai Rp 30 hingga 40 miliar demi mengembangkan produksi di provinsi tersebut. Perusahaan juga akan membangun dock yard di Sungailiat, Bangka Belitung dengan nilai investasi Rp 70 miliar.
Disamping itu, PT Timah pun akan melakukan proyek kerjasama dengan PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya untuk merampungkan proyek properti dengan komposisi pembiayaan 45 persen dari PT Timah, 30 persen dari PT Wijaya Karya, dan 30 persen sisanya dari PT Adhi Karya. PT Timah sendiri merogoh kocek hingga Rp 150 miliar demi pengembangan proyek ini.
"Dengan adanya proyek-proyek ini, semoga kami bisa meningkatkan pendapatan hingga mendekati Rp 10 triliun pada tahun ini dan laba menembus Rp 1 triliun," tuturnya.
Selain itu, pada tahun ini PT Timah juga berencana untuk meningkatkan proporsi pendapatan non timah menjadi 25 persen dari total pendapatan, atau naik dibandingkan proporsi sebelumnya yang hanya sebesar 5 persen.
"Kalau tahun sebelumnya proporsi pendapatan kita 95 persen adalah pendapatan timah dan 5 persen non timah, dengan adanya penambahan proyek ini kami berharap proporsi pendapatan dari timah berkurang jadi 75 persen dan pendapatan non timah bertambah sebesar 25 persen. Bukannya kami memprediksi pelemahan dari produksi timah, namun yang kita inginkan adalah peningkatan proporsi dari pendapatan non timah," jelas Sukrisno. (ags) Add
as a preferred
source on Google
"Apa yang sudah kami lakukan, kami kejar dan kami telah sampaikan kepada pemegang saham kalau kami siap untuk kejar laba hingga Rp 1 triliun di tahun ini," ujar Direktur Utama PT Timah Sukrisno di Jakarta, Rabu (26/3).
Target laba perusahaan tersebut meningkat 56,75 persen dibandingkan dengan perolehan tahun lalu yang mencapai Rp 637,96 miliar. Angka pertumbuhan laba ini juga lebih besar dibanding pertumbuhan tahun lalu yang sebesar 23,85 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa proyek yang kini sedang diselesaikan oleh PT Timah antara lain pembangunan Rare Earth Element (REE) di Bangka Barat dengan nilai investasi mencapai Rp 130 miliar, yang dibangun di atas lahan seluas 108 hektar. REE ini diharapkan mulai beroperasi pada bulan Juni mendatang.
Disamping itu, PT Timah pun akan melakukan proyek kerjasama dengan PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya untuk merampungkan proyek properti dengan komposisi pembiayaan 45 persen dari PT Timah, 30 persen dari PT Wijaya Karya, dan 30 persen sisanya dari PT Adhi Karya. PT Timah sendiri merogoh kocek hingga Rp 150 miliar demi pengembangan proyek ini.
"Dengan adanya proyek-proyek ini, semoga kami bisa meningkatkan pendapatan hingga mendekati Rp 10 triliun pada tahun ini dan laba menembus Rp 1 triliun," tuturnya.
Selain itu, pada tahun ini PT Timah juga berencana untuk meningkatkan proporsi pendapatan non timah menjadi 25 persen dari total pendapatan, atau naik dibandingkan proporsi sebelumnya yang hanya sebesar 5 persen.
"Kalau tahun sebelumnya proporsi pendapatan kita 95 persen adalah pendapatan timah dan 5 persen non timah, dengan adanya penambahan proyek ini kami berharap proporsi pendapatan dari timah berkurang jadi 75 persen dan pendapatan non timah bertambah sebesar 25 persen. Bukannya kami memprediksi pelemahan dari produksi timah, namun yang kita inginkan adalah peningkatan proporsi dari pendapatan non timah," jelas Sukrisno. (ags) Add
as a preferred source on Google