Ekonomi AS Masih Lemah, Rupiah Berpotensi Menguat

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Senin, 13/04/2015 07:35 WIB
Ekonomi AS Masih Lemah, Rupiah Berpotensi Menguat Kasir memegang tumpukan uang rupiah di tempat penukaran uang di kawasan Cikini, Jakarta, Selasa, 10 Maret 2015. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi berada dalam rentang 12.925-12.900 untuk kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Senin (13/4), dengan kecenderungan menguat karena masih lemahnya data ekonomi Negeri Paman Sam.

Head of Research PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, tidak jauh berbeda dengan pergerakan sehari sebelumnya, di mana pada akhir pekan laju Rupiah masih dapat melanjutkan pergerakan positifnya.

“Sebelumnya telah kami sampaikan, lonjakan kenaikan yang terjadi memberikan peluang bagi Rupiah untuk dapat kembali melanjutkan penguatannya. Tentunya dengan asumsi pelemahan laju Dolar AS masih dapat berlanjut,” katanya dalam riset, dikutip Senin (13/4).


Menurutnya, laju Dolar AS masih cenderung melemah seiring kembali meningkatnya harga minyak mentah dan belum kuatnya data-data ketenagakerjaan AS. Hal itu memberikan kesempatan yang sangat baik bagi pergerakan Rupiah.

“Laju Rupiah berada di atas target level resisten 12.968. Dengan sentimen rilis data-data AS yang kurang mendukung, diharapkan dapat memberikan ruang bagi Rupiah untuk mampu bergerak positif. Tetap cermati dan antisipasi jika terjadi pembalikan arah melemah,” jelasnya.

Terkait perdagangan minggu lalu, Reza menilai laju Rupiah di awal pekan belum juga beranjak dari zona merah. Kembali munculnya ketidakpastian di Yunani yang berimbas pada pelemahan nilai Euro hingga berbalik turunnya harga minyak mentah membuat laju Dolar AS berkesempatan mengalami kenaikan.

“Rupiah pun kembali terkena imbas sehingga melanjutkan pelemahannya. Di hari lainnya, meski laju Euro masih melanjutkan pelemahannya seiring meningkatnya ketidakpastian di Yunani, namun laju Rupiah mampu beranjak ke zona hijau dan melampaui kekhawatiran kami sebelumnya,” jelasnya.

Reza menilai, meningkatnya penyerapan lelang Surat Utang Negara (SUN) di hari sebelumnya di mana menghasilkan angka bid to cover ratio lebih besar dari lelang SUN sebelumnya memberikan imbas yang cukup positif.

“Selain itu, rilis inflasi sebesar 0,17 persen yang lebih rendah dari perkiraan kami (0,43 persen) dan konsensus (0,19 persen) serta dibarengi dengan meningkatnya laju Yen dan Yuan seiring ekspektasi akan perbaikan ekonomi masing-masing juga turut memberikan imbas positif sehingga laju Rupiah dapat melanjutkan penguatannya,” kata Reza.

Tampaknya, lanjut Reza, sentimen dari berbalik naiknya laju harga minyak seiring turunnya cadangan minyak AS dan kekhawatiran gagalnya kesepakatan pembicaraan nuklir Iran dan lemahnya data-data AS membuat laju Dolar AS melemah sehingga memberikan kesempatan bagi Rupiah untuk menguat jelang akhir pekan.

“Apalagi penguatan ini juga didukung sejumlah penguatan sejumlah mata uang regional,” jelasnya. (gir)