Sebelumnya, dalam rapat kerja bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pekan lalu BPK melansir telah terjadi penyelewangan di bisnis migas nasional yang berpotensi merugikan negara hingga Rp 12,45 triliun.
Angka tersebut terdiri dari: Urung dibayarnya pajak bumi dan bangunan (PBB) wilayah kerja eksplorasi yang digarap oleh Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) sebesar Rp 1,12 triliun; Piutang negara dari penjualan bagi hasil migas (entitlement) yang dilakukan oleh perusahaan senilai Rp 6,19 triliun; Serta ketidakpatuhan sembilan KKK terhadap ketentuan komponen cost recovery yang disinyalir mengurangi pendapatan negara hingga Rp 5,14 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini mengingat praktik lelang terbatas dinyalir kuat menjadi celah para pemburu rente. “Jadi Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) harus tegas kepada perusahaan (KKKS) yang merugikan negara,” tuturnya.
Manager Advokasi dan Ivestigasi FITRA Apung Widadi menambahkan, besarnya potensi kerugian negara di sektor migas nasional tak lepas dari lemahnya fungsi pengawasan pemerintah dan SKK Migas terhadap para kontraktor.
Menurutnya, hal itu ditandai dengan belum jelasnya penetapan aturan dan pedoman terkait mekanisme berikut tata cara perhitungan harga jual migas yang ditetapkan pemerintah, hingga perbedaan data lifting antara SKK Migas dan Kementerian ESDM meski verifikasi data tersebut kerap dilakukan dalam tiap triwulan.
“Sistem monitoring lifting migas di Kementerian ESDM itu harusnya dimanfaatkan sebagai fungsi kontrol untuk memastikan kewajaran lifting yang dilaporkan KKKS,” cetus Apung
Di samping itu, lanjutnya, penjualan migas bagian negara harus didukung dengan perjanjian penunjukan penjual dan diketahui secara jelas oleh SKK Migas mulai dari mekanisme pembayaran, harga jual hingga jangka waktu pembayaran. (gir/gir)