Sekretaris SKK Migas Gde Pradnyana menyebut, di industri migas tahap peralihan operator sebagai masa transisi merupakan hal yang sangat krusial bagi operator berikutnya untuk menjaga tingkat produksi. "Tanpa transisi, pasti turun produksinya dari produksi rata-rata saat ini," ujar Gde di Jakarta, Kamis (23/4).
Sebagai informasi, rata-rata angka produksi gas mahakam saat ini berada di kisaran 1.600 juta kaki kubik per hari (mmscfd) sementara untuk jumlah produksi kondesat sebesar 60 ribu barel minyak ekuivalen per hari (BOEPD). Realisasi produksi itu tadi disumbang dari lima lapangan yaitu Tunu, Tambora, Peciko, Sisi Nubi dan South Mahakam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akibatnya produksi minyak WMO sempat turun sekitar 11 ribu barel per hari (BPH) atau 30-40 persen dari produksi rata-rata, ketika Kodeco menyerahkannya ke Pertamina," katanya.
SKK Migas menurutnya, tidak bisa memberikan tindakan apapun atas keputusan manajemen Kodeco ketika itu. Sebab, setiap dolar Amerika Serikat (AS) yang dikeluarkan oleh Kodeco untuk menjaga produksi WMO tentu ada hitungan bisnisnya. "Mereka tentu berhitung, investasi yang dikeluarkan bisa kembali atau tidak di sisa masa kontrak. Itu sah saja," ujarnya.
Tanpa izin dari Kodeco sebagai operator WMO, Gde menyebut Pertamina tidak bisa ikut campur dalam urusan produksi blok tersebut. Hal serupa terjadi di Mahakam saat ini. Tanpa izin dan kesediaan dari Total sebagai operator, maka Pertamina tidak boleh melakukan tindakan apapun sampai kontrak Total dan Inpex di Mahakam selesai 2017 nanti.
"Sesuai kontrak, mereka tidak wajib membuka atau memberi informasi apapun. Kecuali Total melepas kepemilikannya atau secara sukarela memberikannya," katanya.
Stabilkan Produksi
Berdasarkan catatan, Pertamina Hulu Energi baru berhasil mengembalikan tingkat produksi WMO ke angka rata-rata setelah mengelola blok tersebut selama dua tahun sejak diserahkan oleh Kodeco pada 7 Mei 2011.
Ketika menerima WMO dari Kodeco, Pertamina mencatat rata-rata produksi minyaknya hanya 13 ribu BPH. Setelah dua tahun melakukan eksplorasi dan produksi dari tiga sumur baru yaitu PHE 38B-5, PHE 40A-5 dan PHE 40A-3 barulah Pertamina Hulu Energi bisa menambah produksi WMO menjadi 22.200 BPH.
"Itu kemudian disebut Pertamina sebagai keberhasilan meningkatkan produksi. Padahal kan hanya mengembalikan ke angka produksi awal Kodeco saja yang turun karena tidak melakukan apa-apa saat kontrak mau habis," kata Gde.
(dim/ags)