Soal Dagang dan Tenaga Kerja Bayangi Kesiapan RI Hadapi MEA

Noor Aspasia Hasibuan, CNN Indonesia | Selasa, 28/04/2015 12:17 WIB
Soal Dagang dan Tenaga Kerja Bayangi Kesiapan RI Hadapi MEA Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) bersama Wapres Jusuf Kalla (ketiga kanan) melepas kepulangan Kepala Negara dan Delegasi Asia Afrika usai puncak Peringatan ke-60 tahun Konferensi Asia Afrika, di Balai Pakuan, Bandung Jumat (24/4). (AACC2015/Yudhi Mahatma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Jusuf Kalla memastikan kesiapan Indonesia berkompetisi di pasar tunggal Asean meski menyimpan sejumlah permasalahan di sisi perdagangan dan bursa tenaga kerja. Dia menekankan meningkatkan daya saing industri dan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar Indonesia tidak boleh menjadi pasar barang dan pasar tenaga kerja.

Hal itu menjadi salah satu topik yang dibawa Wapres untuk dibahas dalam KTT Asean ke-26 di Langkawi, Malaysia.

"Yang akan dibahas tentu masalah hubungan antar-negara Asia Tenggara, Asean, masalah pelaksanaan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), climate change juga akan dibahas," kata JK sebelum bertolak ke Malaysia, Jakarta, Senin (27/4).


Menurut JK, masalah utama dari MEA terletak pada pasar perdagangan barang dan jasa, serta pasar tenaga kerja. Untuk pasar perdagangan, JK meyakini pasar tunggal kawasan akan menjadi salah satu keran perdagangan Indonesia dalam konteks perluasan kerjasama eskpor dan impor.

Sementara untuk pasar tenaga kerja, JK meyakini Indonesia tidak akan hanya menjadi pasar tenaga kerja asing mengingat taraf kehidupan yang lebih rendah di Nusantara. Justri dia optimistis SDM Indonesia yang bakal membanjiri negara-negara tetangga, seperti Malaysia atau Singapura, karena menjanjikan taraf kehidupan yang lebih tinggi.
"Thailand, Kamboja tak akan menjadi prioritas tenaga kerja kita karena perbedaan ejaan dan bahasa," tuturnya.

Dalam kerangka MEA, lanjut Jusuf Kalla, sebenarnya tak ada kewajiban bagi suatu negara mempekerjakan warge negara tetangga. Karenanya, JK menilai menjadi wirausaha atau berbisnis merupakan pilihan terbaik untuk bisa bersaing di pasar tunggal Asean.

"Seorang pengusaha atau pebisnis itu biasanya mampu mengajarkan seseorang jiwa kepemimpinan, tanggung jawab yang kemudian menjadi faktor keunggulan dalam berkompetisi," tuturnya.

Sebagai informasi, posisi Indonesia dalam peta perdagangan kawasan Asean relatif kurang menguntungkan. Satatistik Neraca Perdagangan menunjukan, Indonesia hanya unggul atau mengalami surplus dagang dari Kamboja, Filipina, dan Myanmar. Dengan enam mitra dagang lain di Asean, Indonesia kalah telak dengan mencatatkan defisit neraca perdagangan yang cukup lebar.

(Baca juga: Neraca Dagang Indonesia, Kalah Telak di Asean) (ags/gen)