"Dengan adanya arus bebas tenaga kerja terdidik antar negara-negara di Asia Tenggara, maka hal tersebut bisa menjadikan Asia Tenggara sebagai wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia," ujar William Macy Swing, Director General International Trade for Migration (IOM) di Jakarta (20/4).
Meskipun yakin bahwa arus tenaga kerja akan berdampak baik bagi perkembangan Asia Tenggara secara keseluruhan, namun Swing mengatakan bahwa setiap negara pasti akan melakukan proteksi atas adanya keharusan ini. Meskipun kesepakatan atas dibukanya lalu lintas tenaga kerja antar negara Asean sudah ditetapkan bertahun-tahun yang lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Swing mengatakan hal tersebut mengingat potensi pasar Asia Tenggara yang mencapai 600 juta orang dianggap sebagai daya tarik utama investasi di Asia Tenggara. Lebih lanjut, pesatnya sirkulasi investasi yang terdapat di Asia Tenggara juga tergantung dari arus tenaga kerja tersebut.
Indonesia sendiri sempat ingin menahan laju arus masuk tenaga kerja asing terdidik masuk ke Indonesia dengan memberlakukan beberapa kebijakan seperti kewajiban tes bahasa Indonesia bagi ekspatriat serta pelarangan warga negara asing menjabat posisi strategis di beberapa pekerjaan potensial, meskipun wacana kebijakan ini akhirnya tidak jadi diimplementasikan oleh pemerintah.
Data Izin Menggunakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) menunjukkan bahwa sebanyak 68.762 pekerja asing bekerja di Indonesia pada 2014 atau turun dibandingkan 2013 yang angkanya mencapai 68.957 pekerja. Dari data 2014 tersebut, sebanyak 21.571 pekerja adalah tenaga kerja profesional, 15.172 pekerja adalah konsultan, 13.991 pekerja di posisi manajerial, 9.879 pekerja merupakan direktur, 6.867 pekerja merupakan supervisor, dan 1.101 pekerja merupakan komisioner korporasi. (gen)