"Kalau itu terjadi memang dari sisi pemerintah akan sangat bagus karena berarti investor banyak yang masuk ke Indonesia, tapi kami industri dalam negeri jujur ketar-ketir karena akan mendapatkan pesaing yang berat," kata Wakil Ketua Umum Astruli Sasmoyo S. Boesari saat berdialog dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di kantornya, Jakarta, Senin (4/5).
Sasmoyo menilai Indonesia harus mewaspadai Filipina sebagai negara saingan produsen rumput laut terberat bagi Indonesia. Meski Indonesia terkenal sebagai penghasil rumput laut terbesar di dunia, tetapi faktanya industri-industri dalam negeri sulit bersaing mendapatkan bahan baku. Penyebabnya adalah sebesar 70 hingga 80 persen rumput laut mentah diekspor ke Tiongkok dengan harga yang lebih tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini yang menurut Sasmoyo menyulitkan pelaku industri dalam mendapatkan bahan baku untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. "Bukan karena tidak ada bahan baku tapi karena kami kalah dalam hal harga," katanya.
Ia sangat berharap pemerintah bisa memberikan insentif agar industri rumput laut di Indonesia bisa berkembang dan tahan dari gempuran pasar Asean.
"Pertanyaannya, kebijakan apa yang akan diberikan oleh pemerintah agar industri ini tidak mati di lumbung padi," katanya. (gen)