"Hal ini didukung oleh kebijakan reformasi subsidi migas, yang membuat impor migas menurun 47 persen year-on-year," ujar Endy di Jakarta, Jumat (15/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika kita lihat, lifting minyak pada kuartal pertama 2015 rata-rata mencapai 0,76 juta barel per hari (mbpd), turun dibandingkan triwulan IV 2014 dengan nilai mencapai 0,78 mbpd. Selain itu harga ekspor minyak mentah juga menurun dari rata-rata US$ 72 per barrel pada kuartal IV 2014 menjadi US$ 51 per barrel pada kuartal I 2015," tutur Endy.
Komponen NPI lainnya, yaitu transaksi modal dan finansial, juga mengalami penurunan dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya. Tercatat penurunan transaksi modal dan finansial menurun sebanyak 16,3 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Selain itu, NPI kita juga masih tertahan dari sisi transaksi modal dan finansial, dimana pada kuartal pertama tahun ini kita tetap mencatat surplus sebesar US$ 5,9 miliar atau turun dibanding periode sama dibanding tahun sebelumnya yaitu US$ 7,05 miliar. Meskipun ekonomi mengalami ketidakpastian global, kami senang masih tetap surplus," tambahnya
Secara umum, BI masih mempertahankan rasio defisit neraca berjalan terhadap PDB sebesar 1,8 persen atau di bawah batas maksimal yang diperbolehkan 2,5 persen hingga 3 persen. "Indikator ini masih normal, bahkan cenderung bergerak membaik mengingat rasio defisit neraca berjalan terhadap PDB pada periode yang sama tahun lalu mencapai 1,92 persen," ungkap Endy. (ags)