Selasa, 12 Mei 1998, konsentrasi mahasiswa memanas di depan Universitas Trisakti, Jakarta Barat. Bentrokan dengan aparat tak terhindarkan. Empat mahasiswa Universitas Trisakti meregang nyawa setelah tertembus timah panas.
Dalam hitungan jam, Tragedi Trisakti menyulut kerusuhan dan pembakaran di sejumlah kota besar. Mendengar kekacauan di Negerinya, Presiden Soeharto yang tengah menghadiri pertemuan KTT G-15 di Kairo, Mesir memutuskan pulang ke Ibu Kota pada Rabu, 13 Mei 1998.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kuntoro Mangkusubroto, yang kala itu menjabat Menteri Pertambangan dan Energi (Mentamben) menceritakan kisah itu kepada CNN Indonesia, Kamis (21/5).
“Tapi tidak berhasil. Kerusuhan sudah meluas dan sulit dikendalikan meski harga bensin diturunkan,” ujarnya.
“Jujur saya dan beberapa teman Menteri di sektor ekonomi tidak tahu alasannya. Tapi yang pasti penaikan harga BBM saat itu bukan menggunakan formula yang umum dipakai oleh Kementerian saya,” ucap Kuntoro.
Alih-alih meredam aksi massa melalui kebijakan penurunan harga BBM, Soeharto justru terdesak dan memilih mengakhiri kekuasaannya tepat pukul 09.00 WIB pada 21 Mei 1998.
Kuntoro merupakan satu dari 14 menteri yang mundur dari Kabinet Pembangunan VII, sehari jelang kejatuhan Soeharto.
“Masyarakat sudah terlanjur emosi. Dan benar saja, penurunan harga BBM tak bisa membendung kerusuhan. Malah pemerintah terlihat semakin panik dan puncaknya ya itu, peristiwa semanggi hingga jatuhnya Pak Harto,” jelasnya. (ags)