Jelang Ramadan, Kemendag Jamin Stok Beras dan Gula Aman

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Senin, 25/05/2015 13:08 WIB
Kementerian perdagangan menjamin stok beras pada saat ramadan dan lebaran aman. Sedangkan kenaikan harga diusahakan tak lebih dari lima persen. Gudang beras Bulog di Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perdagangan menjamin persediaan beras aman pada Juli dan Agustus, khususnya pada saat lebaran. Sedangkan kenaikan harga akan diupayakan tak lebih dari lima persen.

Srie Agustina, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, mengatakan stok di Bulog untuk menghadapi bulan ramadan mencapai 1,3 juta ton. Sedangan di penggilingan mencapai 5,4 juta ton.

Jika ditambah dengan persediaan beras hasil pantauan di 165 pasar di seluruh Indonesia, maka stok beras bertambah 246,5 ribu ton sehingga total stok beras menjadi 6,7 juta ton.


Tapi masalahnya, Kementerian Perdagangan memperkirakan kebutuhan beras pada bulan-bulan tertentu, khususnya ramadan dan lebaran, mencapai 8,1 juta ton. Untungnya, menurut Srie, akan terjadi masa panen pada Juni hingga Juli.

“Sehingga ada kemungkinan kita bisa surplus,” kata Srie. Dari perhitungan Kementerian Perdagangan, pasokan dari panen diharapkan mencapai 1,9 juta ton, sehingga defisit 1,4 juta ton pada masa ramadan dan lebaran bisa ditutupi, malah berlebih.

Dengan surplus 0,5 juta ton, Srie berharap tak terjadi inflasi akibat permintaan (demand-pull inflation). Kalau pun terjadi kenaikan harga, Kementerian Perdagangan akan berusaha menekan sampai maksimal lima persen saja.

“Kita baru akan mengimpor beras kalau terdapat peningkatan produksi sebesar lima persen. Tapi kita lihat dulu, semoga produksi kita dalam dua bulan ke depan mencukupi," ujarnya

Adapun soal kebutuhan gula, Srie mengatakan ada persediaan sebanyak 1,4 juta ton dan proyeksi kebutuhan pada masa tersebut sebesar 286 ribu ton.

Meski dari angka terlihat menjanjikan, pengamat masih pesimistis suplai bahan pangan dapat memenuhi permintaan yang membubung.

"Saya tidak optimis hal tersebut akan terjadi, karena harga beras yang ada di pasaran sekarang justru malah menjadi disinsentif bagi petani untuk memproduksi lebih," ujar Dwi Andreas Santoso, guru besar Institut Pertanian Bogor, di tempat yang sama. (ded/ded)