"Untuk tahun 2015 hingga 2016, sudah ada delapan investasi dalam persiapan. Karena kami mendukung ide bisnis inklusif, kami juga aktif mencari potensi investasi bisnis inklusif di Indonesia," ujar Principal Economist ADB Armin Bauer di Jakarta, Selasa (26/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, sepanjang tahun 2013 hingga 2014 ADB telah menggelontorkan dana sebanyak US$ 380 juta untuk 11 investasi bisnis inklusif di Asia. Namun beberapa investasi tersebut belum dilakukan di Indoneisa. Bauer juga mengatakan bahwa potensi investasi bisnis inklusif di Indonesia cukup tinggi mengingat sudah banyak perusahaan yang menganut model seperti ini.
Bauer menegaskan bahwa konsep bisnis inklusif yang dimaksud adalah model bisnis yang juga memberikan solusi inovatif bagi masalah sosial rakyat menengah ke bawah, di mana cara ini berbeda dengan sistem Corporate Social Responsibility (CSR) yang selama ini tidak melibatkan peran serta objek kegiatan.
"Dan konsep bisnis inklusif ini sangat penting bagi Indonesia di mana terdapat peningkatan minat bagi perusahaan, perbankan, dan investor untuk membidik pasar masyarakat kelas menengah ke bawah. Konsep ini sangat baru di Indonesia, tapi jangan disamakan dengan CSR," ucap Bauer.
(ded/ded)