Survei Mahasiswa Nilai Menteri Ekonomi Jokowi Mengecewakan

Tri Wahyuni & Tri Wahyuni , CNN Indonesia | Kamis, 28/05/2015 20:03 WIB
Survei Mahasiswa Nilai Menteri Ekonomi Jokowi Mengecewakan Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil menjawab pertanyaan wartawan usai menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah menteri di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (2/2). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hasil survei yang dilakukan Kelompok Studi Mahasiwa Universitas Indonesia (KSM UI) terhadap enam bulan kinerja pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa kinerja pemerintahan Jokowi masih rendah. Beberapa lembaga kementerian pun mendapatkan rapor merah, salah satunya kementerian bidang ekonomi.

Dalam survei yang mengikutsertakan 1.036 mahasiswa sebagai responden itu, untuk bidang ekonomi, sebanyak 35,3 persen menilai kinerja mereka buruk, 5,8 persen menilai sangat buruk, 42,5 persen menilai cukup, 15,7 persen menilai baik, dan 0,7 persen menilai sangat baik.

Akibatnya, kinerja kementerian di bidang ekonomi berada dalam posisi dua terendah setelah bidang politik. Bidang ekonomi mendapatkan IP sebesar 1,7 sementara bidang politik mendapatkan IP 1,51. KSM UI menggunakan IP sebagai satuan penilaian dengan nilai 4,0 dianggap paling memuaskan.

Ekonom dari Institute for Development of Economic & Finance (INDEF) Berly Martawardaya mengatakan survei ini menunjukkan adanya kekecewaan dalam diri mahasiswa terhadap orang-orang yang menduduki kursi kepentingan dalam dunia ekonomi secara keseluruhan. "Paling tidak survei ini menangkap kekecewaan itu," kata Berly di Gedung Pascasarjana UI, Jakarta, Kamis (28/3).

Lebih lanjut Berly mengatakan, hal yang membuat bidang ekonomi mendapatkan nilai yang rendah terkait kinerja mereka di pemerintahan juga disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang rendah dalam kuartal I pemerintahan Jokowi.

Sebagai ekonom yang juga merupakan dosen ekonomi di UI, Berly juga menyatakan kekecewaannya pada Menteri Koordinator Perekonomian, Sofyan Djalil. Menurut dia, Sofyan kurang mengambil peran ketika terjadi gejolak dalam perekonomian, misalnya saja saat kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan rupiah yang anjlok.

"Harusnya beliau yang tampil di depan. Ketika BBM naik dan rupiah turun, beliau tidak muncul di depan. Menko sebelumnya berani mengambil posisi itu. Tapi kemarin justru Jokowi turun langsung," kata Berly menjelaskan.

Ia juga menegaskan kalau Sofyan Djalil justru harus lebih berani tampil di muka umum dan mengakui kondisi yang sebenarnya dari perekonomian Indonesia, mengingat statusnya sebagai 'Jenderal Ekonomi'.

Berly menganalisa, salah satu alasan Menko Perekonomian 'tidak berani tampil' disebabkan karena ada dua ekonom senior juga yang menjadi rekan kerjanya, yaitu Rini Soemarno sebagai Menteri BUMN dan Bambang Brodjonegoro sebagai Menteri Keuangan.

"Kami ingin dia (Sofyan Djalil) lebih menunjukkan bahwa dia menjadi menko. Meskipun ada tiga yang senior, termasuk dia, tapi bagaimanapun juga beliau posisinya sebagai jenderal," ujar Berly.

Dengan adanya survei yang dilakukan mahasiswa ini, Berly berharap hasil ini bisa memicu perubahan pada kementerian sebagai lembaga maupun pada menteri sendiri sebagai individu. "Semoga ini menjadi bahan masukan penting mana menteri yang perlu ditingkatkan kinerjanya," kata Berly.