“Kami akan klarifikasi pinjaman ke Tiongkok sebesar Rp 520 triliun yang rencananya mau di alihkan ke BUMN. Tentunya Komisi VI akan mempertimbangkan suntikan kepada BUMN tersebut di saat kondisi ekonomi yang tidak stabil seperti saat ini,” ujar Anggota Komisi VI DPR Ihsan Yunus di Jakarta, Kamis (25/6).
Ihsan menilai seharusnya pejabat pemerintah tidak memaksakan pinjaman ditengah perekonomian negara yang melemah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ihsan khawatir di tengah kondisi ekonomi nasional yang belum menunjukkan tanda-tanda perubahan yang positif, jika Indonesia mengalami krisis dan tidak mampu bayar maka secara otomatis akan mengganggu kemampuan BUMN dalam membayar utang tersebut.
"Saya katakan kepada Bank of China Aviation, saya juga kemarin baru saja dari Beijing. Kami sudah mempunyai kesepakatan pembiayaan US$ 40 miliar dari China Development Bank dan ICBC," kata Rini usai menghadiri penandatanganan perjanjian antara Garuda Indonesia dengan BOC Aviation, Selasa (16/6).
Sebelumnya, Rini juga pernah mengungkapkan misinya menyerap dana dari Tiongkok. Menurut rini, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) akan diminta untuk menggunakan dana dari Tiongkok untuk refinancing proyek-proyek infrastruktur yang telah dibiayai oleh perbankan BUMN. Seperti misalnya Jalan Tol Atas Laut Bali. Artinya proyek yang telah dibiayai oleh Bank BUMN selanjutnya kreditnya ditalangi oleh dana Tiongkok tersebut.
Dana dari talangan untuk proyek yang sedang atau sudah berjalan selanjutnya diputar kembali oleh bank BUMN, untuk membiayai proyek infrastruktur lain. Program refinancing akan lebih banyak ditujukan untuk proyek pembangunan pembangkit listrik 35 ribu megawatt (MW). (gen)