Menurut Franky, langkah pemasaran investasi yang dilakukan BKPM di kedua negara ini merupakan upaya untuk menarik arus investasi dari negara-negara Eropa. Hal tersebut juga sejalan dengan penambahan fokus pemasaran investasi BKPM pada semester II 2015 dengan memasukkan negara Malaysia, Australia, Inggris, Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab.
“Penyelenggaraan event pemasaran investasi di Milan bertepatan dengan momentum penyelenggaraan World Expo Milano, sehingga dapat menyasar investor dari berbagai negara di Eropa. Hari ini BKPM berencana menggelar business forum potensi investasi di Indonesia. Sektor yang secara khusus akan dipasarkan dalam event ini adalah investasi di di bidang pariwisata,” ujar Franky dalam keterangan resmi, dikutip Senin (7/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, Inggris merupakan salah satu negara yang menanamkan investasi terbesar Indonesia. Sepanjang periode 2010-2014, Inggris menempati peringkat ke delapan negara dengan realisasi investasi terbesar di Indonesia dengan nilai investasi US$ 4,29 miliar. Sementara sepanjang Semester I 2015, realisasi investasi Inggris di Indonesia mencapai US$ 0,42 miliar.
Oleh karena itu untuk mendorong komitmen investasi tersebut bisa direalisasikan, Franky akan memaparkan sejumlah insentif menarik investasi baru ke Indonesia. Karena, harus diakui investasi Inggris yang masuk ke Indonesia masih relatif kecil dibandingkan keseluruhan outward investment Inggris di dunia.
“Menurut catatan foreign direct investment markets yang dikeluarkan Financial Times, Indonesia menempati peringkat 55 outward investment Inggris sepenjang semester I 2015,” jelas Franky.
Berdasarkan analisis BKPM, untuk memenuhi target realisasi investasi Rp 3.500 triliun periode 2015-2019, dibutuhkan pengajuan izin prinsip senilai Rp 7 ribu triliun-Rp 8.500 triliun atau dua kali lipatnya. Asumsi tersebut didasarkan pada rata-rata rasio realisasi investasi sebesar 40-50 persen dari rencana investasi yang diajukan izin prinsipnya ke BKPM. (gen)