Pertamina dan WIKA Sinergi Garap Bisnis Aspal Hibrida

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 10/09/2015 09:36 WIB
Pertamina dan WIKA Sinergi Garap Bisnis Aspal Hibrida Pertambangan aspal di Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara. (Dok. Detikcom)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pertamina dan PT Wijaya Karya (WIKA) menandatangani nota kesepahaman terkait pengembangan bisnis aspal hybrid grade tinggi. Hal itu dilakukan guna memperkuat bisnis kedua perseroan dan mendukung pengembangan infrastruktur nasional.

“Sinergi antara Pertamina dan WIKA untuk pengembangan bisnis aspal sangat strategis, terutama bagi upaya pemenuhan kebutuhan aspal di dalam negeri,” tutur Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi dalam acara penandatanganan MoU di Kantor Pusat Pertamina, Rabu (9/9).

Aspal hybrid grade tinggi adalah kombinasi dari aspal fraksi minyak bumi yang bisa disuplai Pertamina dan aspal alam yang potensinya banyak dimiliki WIKA. “Cita-citanya kualitasnya makin unggul dan harga makin ekonomis,” kata Rachmad.


Menurut Rachmad, kerjasama ini akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Kerjasama ini sejalan dengan program pembangunan infrastruktur pemerintah dan investasi yang nantinya ditanamkan pun diharapkan bisa mendukung perekonomian lokal dan nasional.

Direktur Utama WIKA Bintang Perbowo mengungkapkan saat ini WIKA memiliki potensi pengolahan aspal alam di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Adapun aktivitas perusahaan di bisnis aspal Buton ditangani oleh anak perusahaan WIKA, PT Wijaya Karya Bitumen (WIKA Bitumen).

“Kami optimistis dengan kerjasama strategis antara Pertamina dan WIKA untuk pengembangan aspal hybrid ini potensi tersebut akan dapat tergarap secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk proyek-proyek infrastruktur nasional yang ditangani oleh WIKA,” kata Bintang.

MoU ini akan menjadi landasan bagi kedua perseroan untuk melakukan kajian bersama (feasibility study) tentang potensi pengembangan bisnis aspal. Di antaranya kajian aspek teknikal seperti desain pabrik, kajian operasional produksi hingga komersial, serta aspek terkait lainnya. Apabila berdasarkan hasil kajian menguntungkan, perusahaan akan membentuk joint venture pengolahan dan produksi aspal hybrid yang direncanakan di Cilacap, Jawa Tengah.

Kebutuhan aspal nasional mencapai 1,2 juta ton per tahun. Saat ini, Pertamina bisa memproduksi aspak sebanyak 300 ribu ton per tahun yang diproduksi di RU IV Cilacap. Sementara itu, sebanyak 900 ribu sisanya berasal dari impor yang dilakukan baik oleh Pertamina maupun badan usaha lainnya.

Kerjasama ini bisa meningkatkan kapasitas produksi aspal Pertamina menjadi 600 ribu per tahun. Dengan adanya tambah aspal alam dari WIKA sebanyak 300 ribu ton per tahun, kapasitas total produksi aspal nasional bisa mencapai 900 ribu per tahun atau setara dengan 75 persen kebutuhan aspal nasional sehingga impor aspal bisa berkurang signifikan. Tak hanya itu, devisa negara piun bisa dihemat dan terjadi multiplier effect terhadap perekonomian nasional. (ded/ded)