Franky mengatakan BKPM melalui kantor perwakilan di London, telah memfasilitasi investor untuk bertemu dengan PLN, Kementerian ESDM, maupun pihak swasta Indonesia yang potensial sebagai mitra, untuk mendiskusikan peluang investasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), baik untuk aplikasi di atas tanah (ground-mounted solar PV) atau dipasang di atap (rooftop solar PV).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kami memaparkan langkah yang sudah dilakukan pemerintah untuk mendorong investasi di sektor kelistrikan. Salah satu langkah yang dipaparkan adalah penyederhanaan perizinan sektor kelistrikan dari 49 izin dalam waktu 923 hari menjadi 25 izin dalam waktu 256 hari,” katanya.
Dalam kegiatan pemasaran investasi di Milan, Italia, Senin (7/9), BKPM mengidentifikasi minat perusahaan pembangkit listrik terbesar di Italia, untuk membangun dua pembangkit listrik di Indonesia.
“Masing-masing pembangkit listrik tenaga uap di Riau dengan kapasitas 250 MW dan nilai investasi sebesar US$ 280 juta, serta pembangkit listrik geothermal dengan kapasitas 50-55 MW dan nilai investasi sebesar US$ 100 Juta,” kata Franky.
BKPM mencatat, sepanjang semester I 2015 terdapat 226 proyek listrik yang sedang melakukan konstruksi dengan nilai investasi Rp 18,4 triliun. Dari keseluruhan nilai investasi sektor kelistrikan tersebut, 10 persen di antaranya direalisasikan di 14 proyek energi baru dan terbarukan, yaitu pembangkit listrik tenaga air, mikrohidro, panas bumi, dan biomassa.
Minat Investasi di Sektor Industri Minuman
Selain melakukan pertemuan one-on-one dengan investor sektor kelistrikan dalam kegiatan pemasaran investasi di London, Franky juga mengadakan pertemuan one-on-one dengan investor Inggris yang berminat memperluas investasinya di sektor industri minuman sari buah yang terintegrasi dengan perkebunannya.
Franky mengungkapkan, investor tersebut sedang melakukan pembicaraan dengan partner potensial dari Tiongkok untuk melakukan joint venture investment di Indonesia.
“BKPM tentu menyambut baik upaya untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi karena dapat memberikan nilai tambah terhadap ekonomi Indonesia, termasuk penyerapan tenaga kerja. Terlebih, investasi sektor makanan dan minuman termasuk industri padat karya yang menjadi salah satu prioritas BKPM,” ujar Franky. (gir/ded)