Ekspor CPO RI Stagnan Akibat Pelanggan Kurangi Pembelian

Agust Supriadi, CNN Indonesia | Selasa, 15/09/2015 13:38 WIB
Ekspor CPO RI Stagnan Akibat Pelanggan Kurangi Pembelian Petugas menunjukkan indukan kelapa sawit dalam pameran dan konferensi kelapa sawit (ICEPO) di Jakarta, Rabu (6/5). (Antara Foto/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekspor minyak sawit Indonesia stagnan pada saat harga CPO berada pada posisi terendah akibat menurunnya permintaan sejumlah pasar utama ekspor Indonesia.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat hanya Amerika Serikat (AS) dan Bangladesh yang permintaannya meningkat, sedangkan China, India, dan Eropa justru mengurangi pembelian CPO dari Indonesia.

Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif Gapki menuturkan pada bulan lalu harga CPO anjlok menjadi di bawah US$ 600 per metrik ton yang merupakan level terendah sejak enam tahun terakhir. Namun, fenomena ini tidak serta-merta mendongkrak volume ekspor minyak sawit Indonesia setelah hanya naik tipis 0,6 persen persen pada Agustus menjadi 2,10 juta ton.


"Ekspor minyak sawit Indonesia stagnan pada saat harga CPO berada pada posisi harga terendah karena lemahnya daya beli dari pasar ekspor utama Indonesia yaitu China, India dan Uni Eropa," ujar Fadhil melalui keterangan tertulis Gapki, Selasa (15/9).

Pada Agustus lalu, jelas Fadhil, negara-negara di Uni Eropa mengurangi permintaan CPO secara signifikan. Ekspor minyak sawit ke Benua Biru pada Agustus tercatat turun 30 persen, dari 380,13 ribu ton pada Juli menjadi 264,55 ribu ton.

Rendahnya permintaan Uni Eropa, kata Fadhil, dipicu oleh jatuhnya harga minyak biji-bijian khususnya kedelai yang merupakan minyak nabati utama di kawasan.

Penurunan permintaan minyak sawit diikuti oleh China, yang mencatatkan penurunan sebesar 26 persen, dari 407,33 ribu ton pada Juli menjadi 301,47 ribu ton pada Agustus. Demikian pula di India, permintaan CPO-nya turun 19 persen setelah hanya mencatatkan volume impor sebanyak 355,49 ribu ton pada Agustus.

"Negeri Tirai Bambu menurunkan impor minyak sawitnya karena lesunya ekonomi di negara tersebut. Pertumbuhan ekonomi yang melambat menjadi pemicu utama dan diikuti juga devaluasi mata uang Negeri Panda ini. Hal yang sama juga terjadi di negeri Bollywood, pertumbuhan yang melambat menjadi penyebab lesunya daya beli," jelas Fadhil.

Beruntung masih ada AS dan Banglades, yang secara bersamaan meningkatkan permintaan CPO dari Indonesia. Gapki mencatat ekspor minyak sawit Indonesia ke AS pada Agustus sebanyak 93,65 ribu ton, meningkat 60 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya 58,7 ribu ton.

"Pemberlakuan efektif pelarangan penggunanan trans fat atau lemak trans dalam produk makanan oleh Badan Administrasi Obat dan Makanan (Food and Drug Administration) telah mendongkrak permintaan minyak sawit dari Negeri Paman Sam," tutur Fadhil.

Sementara Bangladesh, meningkatkan impor minyak sawit dari Indonesia sebesar 257 persen pada bulan lalu, dari 47 ribu ton pada Juli menjadi 167,55 ribu ton.

Fadhil Hasan mengatakan peningkatan signifikan CPO Bangladesh dipicu oleh menipisnya ketersediaan minyak nabati di sana. "Pada saat yang sama harga minyak sawit sedang pada level terendah sehingga traders Bangladesh mengambil kesempatan untuk membeli minyak sawit lebih banyak dari pada biasanya," tuturnya.

(ags/gen)