Investor Wait and See, IHSG Diprediksi Kembali Melemah

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2015 06:16 WIB
IHSG diprediksi bergerak di kisaran 4.285-4.400 pada perdagangan Rabu (16/9) dengan kecenderungan melemah. Pantulan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di ruang kaca Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2015. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi kembali mengalami pelemahan karena minimnya sentimen positif. Pelaku pasar dinilai masih bersikap wait and see terhadap sentimen lanjutan.

“Diprediksi IHSG masih bergerak tertahan hingga melemah dengan range pergerakan 4.285-4.400,” ujar analis Reliance Securities, Lanjar Nafi, Selasa (15/9).

Ia menyatakan, bursa Asia pada perdagangan kemarin, Selasa (15/9) mayoritas ditutup melemah dipimpin oleh indeks saham di Shanghai China di mana emiten produsen komoditas dan teknologi terkoreksi paling dalam.


“Belum adanya tanda-tanda rebound perekonomian setelah serangkaian kebijakan seperti pemotongan suku bunga hingga devaluasi yuan membuat investor khawatir akan dampak kenaikan suku bunga di Amerika,” jelasnya.

Sementara, IHSG terakhir ditutup melemah 43,21 poin atau sebesar 0.98 persen ke level 4.347. Sektor pertanian terkoreksi paling tajam setelah menguat akhir pekan kemarin hingga awal pekan ini.

“Data neraca perdagangan yang masih di bawah ekspetasi sebesar US$ 430 juta dengan ekspetasi US$ 1,1 miliar membuat tingkat kepercayaan kepada emiten berbasis eksportir berkurang," jelasnya

Lanjar menambahkan, posisi rupiah pada Selasa cukup mengkhawatirkan setelah melemah sebesar 0,53 persen ke level Rp 14.408 per dolar AS. Sementara investor asing pun kembali melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 253 miliar pada perdagangan kemarin.

Lebih lanjut, ia mengatakan bursa Eropa dibuka diarea negatif ditengah kekhawatiran prospek pertumbuhan di China dan Jerman sebelum adanya keputusan suku bunga oleh The Fed. Emiten pertambangan memimpin pelemahan pasca harga logam kembali turun.

“Sentimen selanjutnya yang akan diperhatikan investor di antaranya tingkat inflasi dan hasil pertemuan FOMC, pertumbuhan inflasi di Eropa. Dari dalam negeri yakni keputusan suku bunga pinjaman dan tingkat pertumbuhan kredit di Indonesia,” jelasnya. (ags/ags)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK