Tak cuma itu, Kementerian yang dipimpin oleh Rini Soemarno sedang melakukan koordinasi dengan sejumlah Kementerian dalam rangka mengeksekusi pembelian saham Freeport Indonesia yang akan mulai ditawarkan pada 14 Oktober 2015 mendatang.
"Ya secara alami yang akan beli itu perusahaan tambang kita. Dengan catatan jika Kementerian Keuangan atau pemerintah pusat tidak mau beli," ujar Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Aloysius Kiik Ro di gedung DPR, Jakarta, Senin (5/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk valuasi belum sampai kesitu. Nanti tim ESDM akan pimpin negosiasi. Hasil negoisasi ketemu nilai. Setelah itu baru ditawarkan," tutur komisaris PT Danareksa.
Namun untuk tahap awal, Freeport hanya diwajibkan melepas 10,64 persen sahamnya guna menggenapi 9,46 persen yang telah dipegang oleh pemerintah sehingga menjadi 20 persen. Sementara 10 persen sisanya baru masuk masa penawaran divestasi pada 2020.
"Penawarannya kan (tahap kedua) bisa sampai 1 tahun. Jadi mekanisme penawarannya itu pertama ke pemerintah pusat, ke BUMN, ke daerah, baru (setelahnya) ke swasta atau melalui penawaran umum saham perdana (IPO)," tuturnya.
"Pokoknya mirip Inalum," tandas Aloysius. (gen)