Saratoga Batal Akuisisi Saham Taksi Express

Immanuel Giras Pasopati, CNN Indonesia | Jumat, 09/10/2015 16:14 WIB
Saratoga Batal Akuisisi Saham Taksi Express Taksi Express sedang beroperasi di Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kendaraan investasi bentukan Sandiaga S. Uno dan Edwin Soeryadjaya, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, (SRTG) menyatakan batal mencaplok 51 persen saham operator taksi, PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI).

Sekretaris Perusahaan Saratoga Investama, Ira Dompas mengatakan bahwa perseroan bersama dengan anak usaha perseroan selaku pembeli, telah meneken perjanjian pengakhiran jual beli dengan pihak penjual.

Perseroan, kata Ira, bersama dengan PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk dan Golden Valley Advisors Inc selaku pembeli, telah menandatangani perjanjian pengakhiran pada 7 Oktober 2015 dengan PT Rajawali Corpora selaku penjual. Hal itu dilakukan berdasarkan perjanjian jual beli bersyarat pada 6 Juli 2015 terkait rencana pembelian 1,09 miliar saham Express.


“Pengakhiran tersebut dilakukan disebabkan kondisi pasar yang tidak kondusif. Adapun pengakhiran tersebut berlaku efektif sejak tanggal 7 Oktober 2015,” ujarnya dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, Jumat (9/10).

Padahal, pekan lalu, perseroan menyatakan kepada CNN Indonesia bahwa perjanjian tersebut masih berlangsung. Saat itu, Ira Dompas menyatakan manajemen masih berpegang pada surat pengumuman proses due dilligence yang telah disampaikan perseroan kepada otoritas keuangan dan pasar modal.

Saat itu Ira menjelaskan, pihaknya terikat dengan perjanjian dengan Express Transindo untuk tidak memberikan informasi selama proses tersebut masih berjalan. Atas dasar hal tersebut, pihaknya belum bisa memberikan komentar lebih detail terkait akuisisi ini.

“Kami terikat oleh Non Disclosure Agreement (NDA) dan tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut pada saat ini,” tuturnya kepada CNN Indonesia, Jumat (2/10).

Sebelumnya, kabar gagalnya akuisisi ini sempat santer berhembus dan membuat harga saham Express Transindo jeblok selama beberapa hari. Bahkan, saham Express Transindo sempat dihentikan perdagangannya pada 1 Oktober 2015, setelah harganya anjlok 58,61 persen sejak 11 September 2015.

Analis PT Bahana Securities, Agustinus Reza Kirana adalah salah satu yang sempat mengaitkan kejatuhan saham Express Transindo dengan isu gagalnya akuisisi saham oleh Saratoga Investama saat itu.

“Kabar buruk terlihat setelah saham Express jatuh dari puncaknya hingga 70 persen dan turun 48 persen sejak awal tahun, kami percaya saham (TAXI) terkena kabar buruk dari gagalnya akuisisi oleh Saratoga Group,” tulisnya dalam riset, belum lama ini.

Dari sisi kinerja, Express Transindo membukukan pendapatan Rp 247,09 miliar sepanjang kuartal I 2015, atau naik dari posisi Rp182,01 miliar di kuartal I 2014. Namun laba bersih Express turun menjadi Rp20,32 miliar, dari Rp29,21 miliar di kuartal I 2014. Beban bunga tumbuh 82 persen secara tahunan menjadi Rp1 triliun karena penerbitan obligasi untuk ekspansi armada pada 2014. (gir/ded)