Di satu sisi, kata Darmin, deflasi bisa meningkatkan konsumsi domestik seiring dengan tren penurunan harga barang dan jasa. Namun di sisi lain, lanjutnya, deflasi yang terjadi selama dua bulan berturut-turut menunjukan bahwa daya beli masyarakat masih mengalami pelemahan.
"Ya untuk masyarakat dia bagus itu suatu hal yang positif karena inflasi kan mempengaruhi daya beli masyrakat. Tapi itu (deflasi) juga menjadi petunjuk bahwa ekonominya permintaan secara makro masih agak lemah," kata Darmin saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (2/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terbantu oleh penurunan harga-harga pangan yang lain dan karena pemerintah cepat tanggap menghadapi masalah harga pangan," ujarnya.
Selama Oktober, kelompok bahan makanan menjadi penyumbang deflasi terbesar yakni sebesar 0,22 persen. Adapun bahan makanan yang mengalami penurunan harga antara lain cabai merah yang turun 26,6 persen, daging ayam ras 54,3 persen, cabai rawit 32,6 persen, telur ayam ras turun 5,52 persen, tarif listrik turun 0,31 persen. bahan bakar rumah tangga dan gas yang turun 0,38 persen dan bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin jenis Pertamax dan sola yang masing-masing turun 0,18 persen dan 2,26 persen. (ags/gen)