Darmin Nilai Deflasi Oktober Cermin Pelemahan Daya Beli

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Senin, 02/11/2015 16:22 WIB
Darmin Nilai Deflasi Oktober Cermin Pelemahan Daya Beli Menko Perekonomian Darmin Nasution. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai deflasi yang terjadi dalam dua bulan terakhir bisa menjadi sinyal positif ataupun negatif bagi perekonomian nasional.   

Di satu sisi, kata Darmin, deflasi bisa meningkatkan konsumsi domestik seiring dengan tren penurunan harga barang dan jasa. Namun di sisi lain, lanjutnya, deflasi yang terjadi selama dua bulan berturut-turut menunjukan bahwa daya beli masyarakat masih mengalami pelemahan.

"Ya untuk masyarakat dia bagus itu suatu hal yang positif karena inflasi kan mempengaruhi daya beli masyrakat. Tapi itu (deflasi) juga menjadi petunjuk bahwa ekonominya permintaan secara makro masih agak lemah," kata Darmin saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (2/11).


Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan sepanjang 2015 telah terjadi empat kali deflasi yakni pada Januari (-0,24 persen), Februari (-0,36 persen), September (-0,05 persen), dan Oktober (-0,08 persen).

Sasmito Hadi Wibowo, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS menilai, deflasi yang terjadi pada September dan Okober merupakan hasil kerja keras pemerintah dalam menjaga kenaikan harga barang dan jasa terutama pangan (volatile food).

Dia mengungkapkan, harga beras menjadi salah satu faktor penentu tingkat inflasi, di mana pada Oktober mengalami kenaikan harga 0,76 persen. Namun, kenaikan harga beras itu terbantu dengan turunnya beberapa harga bahan makanan sehingga menyebabkan deflasi.

"Terbantu oleh penurunan harga-harga pangan yang lain dan karena pemerintah cepat tanggap menghadapi masalah harga pangan," ujarnya.

Selama Oktober, kelompok bahan makanan menjadi penyumbang deflasi terbesar yakni sebesar 0,22 persen. Adapun bahan makanan yang mengalami penurunan harga antara lain cabai merah yang turun 26,6 persen, daging ayam ras 54,3 persen, cabai rawit 32,6 persen, telur ayam ras turun 5,52 persen, tarif listrik turun 0,31 persen. bahan bakar rumah tangga dan gas yang turun 0,38 persen dan bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin jenis Pertamax dan sola yang masing-masing turun 0,18 persen dan 2,26 persen. (ags/gen)