"Kami mempunyai mekanisme monitoring dan evaluasi. Ini menjadi tools kami untuk mengendalikan APBN," kata Direktur Jenderal Anggaran, Askolani di Jakarta, Jumat.
Askolani mengatakan, Kemenkeu akan terus memantau pergerakan APBN dan untuk saat ini belum ada prediksi terkait dengan realisasi penerimaan maupun penyerapan belanja yang dikhawatirkan tidak sesuai ekspektasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan saat ini defisit anggaran masih dalam batas yang aman dan Kementerian Keuangan terus mendorong optimalisasi kinerja APBN agar bisa memberikan kontribusi yang efektif pada perekonomian hingga akhir tahun.
Sebelumnya, Direktorat Jenderal Pajak melaporkan realisasi penerimaannya per 4 November 2015 yang baru sebesar Rp774,4 triliun atau sekitar 59,84 persen dari target dalam APBN-P Rp1.294,2 triliun. Sampai dengan akhir tahun, realisasi penerimaan pajak diproyeksi meleset (shortfall) sekitar Rp160 triliun lebih rendah dari target.
Dengan risiko tersebut, pemerintah harus menambah pembiayaan melalui utang guna menutup defisit anggaran agar tidak melebihi proyeksi 2,23 persen terhadap PDB.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Robert Pakpahan mengatakan direktoratnya siap menarik sejumlah pinjaman baru dari lembaga multilateral serta menerbitkan surat utang sebagai upaya menjaga defisit anggaran tidak melebar terlalu jauh.
"Ada penambahan dari lembaga multilateral, lelang sudah ditambah. Termasuk di antaranya dari ORI. Jadi pelan-pelan (pembiayaan) sudah ditambah dan diharapkan sudah secure (hingga akhir tahun)," katanya.
Robert memastikan Kementerian Keuangan melakukan segala upaya, agar defisit anggaran tidak melebihi angka Rp300 triliun atau sekitar 2,6 persen terhadap PDB, seperti angka perkiraan terkini. (ags/antara)