Sumber utang yang akan ditarik antara lain berasal dari pinjaman valas yang ditawarkan lembaga keuangan multilateral yang mencapai kisaran US$ 1,75 miliar atau setara dengan Rp 23,72 triliun (kurs Rp 13.555 per dolar AS)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, lanjutnya, ada juga komitmen pinjaman lain dari Bank Pembangunan Jerman (KfW) sebesar US$ 350 juta dan ADB US$ 400 juta yang akan ditarik pada tahun ini.
Menurutnya, penarikan pinjaman multilateral lebih murah dan minim risiko dibandingkan dengan penerbitan obligasi negara. Terlebih, katanya, di tengah rencana Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan pada Desember.
"Jadi kalau pinjaman tidak terpengaruh The Fed, kalau butuh tinggal tarik saja," tuturnya.
Dalam APBNP 2015, selisih kurang antara pendapatan dan belanja negara atau defisit dibatasi sebesar Rp 222,5 triliun atau 1,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Untuk menutup itu, pemerintah merencanakan penarikan utang sebesar Rp 498 triliun karena akan memperhitungkan kewajiban pelunasan utang dan pengelolaan portofolio utang. (ags/gen)