Jika PPnBM Mobil Sedan Turun, Honda Tak Pasang Target Tinggi

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 03/12/2015 10:57 WIB
Jika PPnBM Mobil Sedan Turun, Honda Tak Pasang Target Tinggi Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual HPM Jonfis Fandy mengaku memiliki sudut pandang sendiri atas prospek bisnis otomotif ke depan. (ANTARA FOTO/Zarqoni maksum).
Jakarta, CNN Indonesia -- Keinginan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) meminta pemerintah menurunkan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mobil sedan demi meningkatkan penjualannya di dalam negeri, tidak menarik perhatian PT Honda Prospect Motor (HPM).

Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual HPM Jonfis Fandy mengaku memiliki sudut pandang sendiri atas prospek bisnis otomotif ke depan. Menurutnya tren penjualan mobil Honda selama beberapa tahun ke depan masih akan didominasi segmen Multi Purpose Vehicle (MPV) dan Low Sport Utility Vehicle (SUV). Hal ini terjadi karena motivasi masyarakat Indonesia dalam membeli mobil, lebih banyak dipengaruhi oleh kebutuhan.

"Menurut survei yang kami lakukan, kebutuhan mobil berjenis tujuh tempat duduk (seater) tak terelakkan. Karena pelanggan mobil di Indonesia itu membeli mobil sesuai dengan karakternya. Sedan sudah jelas berbeda jauh dengan MPV," ujar Jonfis di Jakarta, kemarin.


Ia juga menambahkan kalau pelanggan yang sudah memiliki mobil bertahun-tahun lamanya kadang enggan untuk mengganti mobilnya. Kalaupun mengganti mobilnya, pelanggan kebanyakan akan mengganti dengan model yang sama karena memang sudah memenuhi kebutuhannya.

Namun, Jonfis sendiri masih belum yakin apakah prediksinya bisa mengenai sasaran atau tidak.

"Tapi kalau usulan penurunan PPnBM ini jadi dikabulkan, siapa tahu nanti bisa berbeda hasilnya. Dari Gaikindo sendiri juga tidak ada paksaan bagi Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) untuk memperbesar proporsi penjualan mobil sedan ke depan," tambah Jonfis.

Sebelumnya Sekretaris Jenderal Gaikindo Noergadjito mengatakan kalau Gaikindo tengah meminta pemerintah untuk menurunkan PPNBM dari angka 30 persen saat ini untuk meningkatkan penjualan sedan domestik. Hal itu dianggap penting demi menarik minat prinsipal otomotif untuk memproduksi mobil sedan di Indonesia.

Jika produksi mobil sedan meningkat, maka ada kesempatan Indonesia bisa mengekspor mobil sedan selain jenis MPV. Pasalnya, menurut Noegardjito, mobil yang kebanyakan beredar di luar negeri adalah jenis SUV dan sedan.

"Kini terserah pemerintah, kalau mau perbesar ekspor dan bisa menyaingi Thailand ya kurangi PPNBM," terangnya pada pertengahan November lalu. (gen)