2016, Pemerintah Masih Akan Impor Komoditas Pangan Utama

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Kamis, 31/12/2015 18:07 WIB
2016, Pemerintah Masih Akan Impor Komoditas Pangan Utama Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution di Istana Negara, Jakarta, Senin, 21 Desember 2015. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah memastikan akan tetap mengimpor sejumlah komoditas pangan utama tahun depan. Hal ini dilakukan menyusul tingginya kebutuhan pangan di dalam negeri, dan terbatasnya  produksi nasional yang menyebabkan Indonesia harus bergantung pada produk-produk luar negeri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan, jagung, beras, sapi, kedelai dan gula masih menjadi beberapa komoditas yang akan diimpor dari sejumlah negara tetangga. 

Untuk komoditas jagung, Darmin bilang pemerintah memperkirakan pada kuartal I 2016 akan mengimpor 600 ribu ton. Meski begitu, pemerintah memprediksi produksi jagung dalam negeri akan bertambah sebelum akhirnya memutuskan melakukan impor di kuartal selanjutnya.


"Setelah itu sebelum masuk di kuartal II kita lihat perkembangan tanaman di kuartal I, lalu kami putuskan di kuartal II berapa. Dengan begitu kami percaya jumlah harga dari jagung itu tidak terganggu," jelas Darmin di kantornya, Jakarta, Kamis (31/12).

Sedangkan untuk komoditas beras, Darmin bilang keputusan untuk mengimpor beras merupakan sesuatu yang rumit. Pasalnya di sepanjang 2015 Indonesia harus mengahadapi fenomena musim kering atau el nino. yang menjadikan masa tanam padi terlambat dan bergeser.

Dengan posisi cadangan 1 juta ton yang ada di Perum Bulog saat ini, lanjut Darmin, pemerintah tidak ingin terlena dengan jumlah stok yang ada.

"Tapi tidak berarti nanti seluruh perkiraan kekurangan itu akan buru-buru diimpor. Yang penting pesan saja dulu dari luar, kami lihat perkembangannya, biasanya masa tanam itu sebulan," jelasnya.

Sementara untuk komoditas daging sapi, pemerintah berencana mengimpor 238 ribu ton daging sapi potong dan sedikitnya 600 ribu ekor sapi hidup jenis bakalan guna memenuhi kebutuhan konsumsi yang mencapai 675 ribu ton di tahun 2016.

"Yang penting pesan saja dulu dari luar, kami lihat perkembangannya, biasanya masa tanam itu sebulan," jelasnya.

Selain tiga komoditas di atas, sedianya pemerintah juga akan mengimpor gula jenis gula kristal putih (GKP) sebanyak 2,9 juta ton untuk memenuhi kebutuhan tahun depan yang diperkirakan mencapai 2,9 juta ton.

"Stok gula di awal 2016 diperkirakan 840,6 ribu ton. Hanya dpt memenuhi kebutuhan Januari hingga April. Padahal kebutuhan dalam periode itu diperkirakan 1,1 juta ton. Dengan demikian, kami hitung kebutuhan dari impor GKP maupun impor untuk gula," tandas Darmin. (dim/dim)