“Inflasi Desember itu akibat suplai barang agak kurang, bisa juga karena kebutuhan meningkat. Tapi laju inflasi seperti itu tidak akan terjadi pada Januari, jadi hanya sementara. Apalagi akan ada pelaksanaan harga BBM yang baru,” kata Darmin di kantornya, Senin (4/1).
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada Desember 2015 terjadi inflasi sebesar 0,96 persen menyusul kenaikan harga bahan makanan dan tarif transportasi bersamaan dengan periode libur Natal dan Tahun Baru. Sehingga secara tahun kalender Januari-Desember 2015, Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) berhasil menjaga inflasi di angka 3,35 persen pada tahun perdananya memimpin Indonesia, terendah dalam lima tahun terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala BPS Suryamin menjelaskan inflasi sepanjang 2015 yang sebesar 3,35 persen merupakan tingkat inflasi yang terendah sejak 2010. Selama 2010 tersebut inflasi tercatat sebesar 6,69 persen, namun pada 2011 inflasi sempat turun menjadi 3,79 persen, lalu di 2012 melonjak menjadi 4,3 persen, kemudian melonjak tajam menjadi 8,38 persen dan 8,6 persen pada 2013 dan 2014.
Sementara untuk harga solar, lanjut Sudirman, turun dari Rp6.700 per liter menjadi Rp5.650 per liter. Harga baru solar tersebut sudah termasuk subsidi sebesar Rp1.000 per liter ditambah dana ketahanan energi Rp300 per liter. "Jadi harganya (solar) Rp5.950 per liter," kata Sudirman.
Meski keputusan untuk menurunkan harga BBM telah dibuat akhir Desember 2015 lalu, namun pemerintah baru mengimplementasikannya di awal Januari 2016 karena ingin memberi kesempatan bagi pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk menghabiskan stok BBM yang dibelinya dengan harga lama. (gen)