Dorong Pemakaian Energi Panas Bumi, 5 PLTP Digenjot Tahun Ini

Diemas Kresna Duta, CNN Indonesia | Kamis, 07/01/2016 05:03 WIB
Dengan beroperasinya lima PLTP baru akan ada tambahan 270 MW listrik dari pembangkit panas bumi yang saat ini kapasitasnya baru mencapai 1.438, 5 MW. Menteri ESDM Sudirman Said melakukan inspeksi di PLTP Muara Laboh, Sumatera Utara milik PT Supreme Energy. (Dok. Kementerian ESDM).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) sebesar 1.708,5 mega watt (MW) pada tahun ini. Untuk itu, lima proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) akan digenjot pembangunannya.

Yunus Saefulhak, Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM menjelaskan kelima PLTP yang dijadwalkan beroperasi tahun ini adalah PLTP Sarulla dengan kapasitas 110 MW, PLTP Lumut Balai 55 MW, PLTP Karaha Bodas 30 MW, PLTP Lahendong Unit V 20 MW dan PLTP Ulubelu 55 MW.

"Rencananya kelima PLTP tadi akan beroperasi Desember 2016," ujar Yunus seperti dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, Senin (4/1).


Dengan beroperasinya lima pembangkit tadi, Yunus bilang maka secara keseluruhan total kapasitas pembangkit listrik panas bumi di Indonesia akan mencapai 1.708,5 megawatt (MW). Pasalnya, sampai akhir 2015 jumlah pembangkit listrik bertenaga geothermal baru mencapai 1.438, 5 MW.

"Untuk mencapai 7.100 MW pada 2025 memang masih jauh tapi puncak pengoperasian akan bermunculan di 2019, 2020 dan seterusnya," tutur Yunus.

Namun, Yunus mengakui terdapat beberapa proyek PLTP yang akan molor pengoperasiannya, antara lain  PLTP Lumut Balai yang diprediksi baru akan jalan pada Januari atau Februari 2017  karena terdeteksi ada potensi longsoran tanah di rumah pembangkit.

"Harus distudi kembali. Kalau tidak memungkinkan harus cari lokasi lain, tidak bisa dihindari," jelasnya.

Dia menambahkan, pengembangan sumber daya panas bumi (geothermal) untuk pembangkit listrik diproyeksikan akan menjadi sumber energi andalan seiring dengan semakin menipisnya cadangan migas di dunia.

Menurutnya, penggunaan energi panas bumi diyakini lebih ramah lingkungan karena emisi yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan dengan pembangkit lain yang menggunakan batubara, minyak maupun gas alam.

"Manfaat lain terhadap lingkungan adalah tidak terjadinya pembuangan limbah secara terbuka karena air kondensat dan air produksi diinjeksikan kembali ke dalam sumur sehingga kestabilan tekanan reservoir tetap terjaga," tuturnya. (ags/ags)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK