Pengusaha Mal Nilai E-Commerce Sebagai Ancaman

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 19/01/2016 14:37 WIB
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) meminta para pengusaha pusat perbelanjaan giat berinovasi dan berbenah untuk bersaing dengan E-Commerce. Foto: CNN Indonesia/Tri Wahyuni
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) meminta para pengusaha pusat perbelanjaan giat berinovasi dan berbenah.

Hal ini diperlukan demi mengantisipasi pesatnya perkembangan perdagangan secara elektronik atau yang lebih dikenal dengan istilah e-commerce.

“Yang harus kita lakukan adalah mengantisipasi e-commerce. Keberadaan e-commerce tidak bisa ditolak,” tutur Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) APPBI Handaka Santosa di sela Seminar dan Musyawarah Nasional APPBI di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (19/1).


Handaka mengatakan, adanya himbauan untuk melakukan pembenahan dan inovasi lantaran pengelola pusat perbelanjaan belum melihat e-commerce sebagai ancaman.

Sebab, sampai saat ini transaksi belanja melalui e-commerce masih di bawah satu persen dari seluruh transaksi ritel.

“Berbeda dengan di China di sana sudah sekitar 10 persen (transaksi e-commerce),” ujarnya.

Meski demikian, kata Handaka pengelola pusat belanja domestik sendiri telah menyadari bahwa pusat belanja harus mampu memberikan pelayanan, kenyamanan dan hiburan bagi pengunjung secara prima.

Satu diantaranya dengan menyediakan tempat perawatan kecantikan, fitness, bioskop, dan taman bermain anak.

“Jadi kenyamanan dan service yang harus kita tingkatkan,” ujarnya.

Ditemui secara terpisah, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Srie Agustina menilai bahwa keberadaan e-commerce bukan menjadi pesaing bagi pusat belanja retail “offline” melainkan sebagai diversifikasi pola perdagangan.

“Di tengah lesunya, konsumsi dan transaksi retail di mal-mal (e-commerce) bisa dilakukan,” ujarnya.

Berdasarkan laporan dari pelaku usaha retail yang memasarkan produknya secara online, Srie menyebut konstribusi e-commerce transaksi perdagangan memiliki titik jenuh yang berkisar 10 – 15 persen.

“Kontribusi perdagangan secara offine tetap lebih besar. Jadi melihat itu, menurut saya, perdagangan offline jangan takutlah,” ujarnya. (dim/dim)