CEO Group JNE, Abdul Rahim Tahir menargetkan pada 2018 atau 2019 wilayah operasionalnya mencakup 5.500 titik logistik di Indonesia. Cakupan bisnis tersebut lebih luas dibandingkan dengan wilayah pelayanannya yang saat ini mencakup 5 ribu titik logistik.
"Sebenarnya semua daerah sudah bisa kami cover, tapi masalahnya kami belum punya cabang seperti kabupaten hingga kecamatan-kecamatan tertentu. Maka dari itu, kami berharap bisa membangun titik-titik logistik baru yang bisa menjangkau hingga ke titik wilayah administratif terkecil," jelasnya di Jakarta, Rabu (18/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, perusahaan masih tetap fokus menggarap bisnis logistik di luar e-commerce demi menyeimbangkan portofolio bisnis logistik perusahaan. Ia juga mengaku tidak gentar akan layanan antar jemput barang melalui aplikasi ojek online yang belakangan ini digandrungi di kota besar.
"Layanan ojek online itu kan tidak bisa menjangkau hingga luar daerah. Apalagi pelayanan antar barang ke daerah-daerah luar kan traffic-nya lebih rendah dan jenis komoditas yang dikirim bisa dibilang cukup unik," tuturnya.
Daerah pertama yang akan menjadi sasaran utama pembangunan titik logistik baru JNE adalah kepulauan di Sulawesi Utara serta Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Sayangnya, ia enggan menyebut jumlah uang yang digelontorkan perusahaan untuk penambahan 500 titik logistik baru ini.
"Sekarang belum saatnya kami bongkar, nanti pasti ada saatnya kami beritahu," jelasnya. (ags)