“Kami minta Kementerian Keuangan agar pengenaan PPN itu ditangguhkan dulu, dibatalkan dulu, karena dampaknya berlebihan terhadap harga pangan strategis," tutur Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di kantornya, Jakarta, Jumat (22/1).
Sebelumnya, dalam PMK 267/2015 pemerintah menegaskan jenis ternak yang dibebaskan PPN atas impor dan/atau pernyerahannya di dalam negeri yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 81 Tahun 2015 tentang Impor dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yang Bersifat Strategis yang Dibebaskan dari Pengenaan PPN sebesar 10 persen hanya sapi indukan. Konsekuensinya, impor maupun penjualan jenis ternak lainnya dikenakan PPN yang bisa meningkatkan harga jual produk turunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Johny Liano, Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) menilai kebijakan pengenaan PPN pada ternak non sapi indukan tidak konsisten dengan semangat memajukan industri peternakan dalam negeri. Pasalnya, pelaku usaha akan terinsentif mengimpor daging sapi. Saat ini, daging sapi bebas PPN karena tergolong bahan pangan strategis.
"Agak sedikit aneh ya. Ini daging sapi dibebaskan dari PPN, sapinya dikenakan PPN. Sapinya bahan baku, produknya daging. Produknya dibebaskan PPN, tapi sapinya dikenakan PPN," tutur Johny. (gen)