Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja mengatakan biaya distribusi yang tinggi menyebabkan harga BBM di Indonesia Timur lebih tinggi dibanding Pulau Jawa. Ia melanjutkan, selisih harganya bisa Rp15 ribu hingga Rp30 ribu lebih mahal per liternya.
"Karena sistem distribusinya ke Timur memang susah, kadang hanya bisa pakai kapal. Bahkan pernah 14 kapal pengangkut BBM milik PT Pertamina (Persero) di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) tenggelam karena medannya berat. Susah untuk distribusi di Indonesia Timur," jelas Wiratmaja di Jakarta, Kamis (4/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami ingin buat tangki yang bisa menampung BBM selama tiga hingga empat bulan. Kalau tangki-tangki ini ditaruh setidaknya bisa mengurangi biaya distribusi BBM sehingga harga BBM lebih murah," katanya.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan harga distribusi BBM di Indonesia Timur sangat tinggi mengingat tipe Indonesia sebagai negara kepulauan. Bahkan menurutnya, distribusi BBM di Indonesia merupakan salah satu yang terumit di dunia.
Ia melanjutkan, pembangunan tangki timbun oleh Pertamina juga belum maksimal. Dari target kapasitas 6 juta kl, Pertamina baru membangun tangki timbun sebesar 3 juta kl atau baru 50 persen dari jumlah yang dibutuhkan.
"Maka dari itu, kami berharap bisa terus membangun terminal-terminal penyimpanan BBM. Semester I tahun ini, kami sedang berupaya membangun di Tanjung Uban, Kepulauan Riau dengan kapasitas 4x25 ribu barel dan Pulau Sambu dengan kapasitas 2x25 ribu barel. Kami harap itu nantinya bisa membantu distribusi BBM," ujarnya.
Menurut data Pertamina 2015, kebutuhan BBM Indonesia per tahun tercatat sebesar 65 juta liter yang dipergunakan oleh 55,31 juta unit motor, 11,33 juta unit mobil, 3,21 juta unit bus, dan 5,34 juta unit truk. (gen)