Seperti dikutip dari Reuters, bahkan tutupnya bursa Tokyo karena liburan tidak bisa menghentikan dolar AS untuk meluncur ke level terlemah dalam 15 bulan melawan yen. Sementara emas akhirnya memecah level resisten grafik utama untuk mencapai titik tertinggi sejak Mei.
Permintaan untuk treasury AS mendorong imbal hasil jangka panjang ke posisi terendah dalam satu tahun dan meratakan kurva imbal hasil dengan cara yang telah diramalkan saat resesi ekonomi di masa lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peningkatan resiko diperlihatkan pada pergerakan saham Asia, setelah indeks Hong Kong HSI menyelam 3,8 persen setelah investor kembali dari libur panjang tahun baru Imlek.
Wall Street telah berakhir variatif pada Rabu setelah Ketua Federal Reserves Janet Yellen terdengar optimistis pada ekonomi AS, tetapi mengakui risiko dari gejolak pasar dan perlambatan di China.
"Yellen membuat hal ini jelas bahwa sementara The Fed masih mengharapkan untuk melanjutkan pengetatan bertahap, kebijakan tidak terpaku pada rencana awal dan akan merespon dengan tepat tergantung perkembangan," kata Justin Fabo, ekonom senior di ANZ.
"Tes yang sesungguhnya mungkin datang kemudian, jika pasar terus memburuk dan melihat ke bank sentral untuk menyelamatkan mereka. Apakah 'pistol' pembuat kebijakan diisi peluru kosong?" imbuhnya. (gir)