Prinsipal Jepang Fokus ke SUV, Mazda Setop Produksi Minivan

Agust Supriadi, CNN Indonesia | Senin, 29/02/2016 08:22 WIB
Prinsipal Jepang Fokus ke SUV, Mazda Setop Produksi Minivan Senior Marketing Manajer Mazda Motor Indonesia Astrid Ariani Wijana berpose disamping seri Mazda Biante Limited Edition dalam gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show 2015 (GIIAS 2015), Indonesia Convention Exhibition (ICE) - BSD City, Tangerang, Kamis (20/8). (CNN Indonesia/Galih Gumelar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mazda Motor akan menghentikan pengembangan dan produksi minivan, yang popularitasnya menurun dengan munculnya kendaraan sport.

Kebijakan Mazda ini menyusul strategi prinsipal otomotif Jepang lainnya yang telah lebih dahulu mempersempit formasi model produk kendaraannya.

Nikkei Asian Review melansir, perusahaan memutuskan untuk tidak memproduksi lagi penerus dari tiga model minivan yang saat ini beredar di pasar. Model pertama yang tidak akan lagi diproduksi adalah Premacy atau yang dikenal sebagai Mazda 5 di luar Jepang. Lalu MPV yang juga dikenal sebagai Mazda 8. Terakhir, Mazda Biante.


Statistik mencatat penjualan ketiga model minivan itu di pasar Jepang sekitar 10.600 unit pada tahun lalu, hanya seperempat dari puncak tertinggi penjualannya pada 2010.


Perusahaan yang berbasis di Prefektur Hiroshima itu menilai hanya sedikit keuntungan yang diperoleh dengan terus memproduksi ketiganya.

Produksi MPV direncanakan berakhir lebih cepat, yakniu pada tahun ini. Ketika Mazda berhenti membuat Premacy, juga akan menghentikan pasokan kendaraan ke Nissan Motor. Penjualan ketiga model minivan Mazda diharapkan berakhir pada 2017.

Untuk itu, perusahaan akan mengalihkan sumber dayanya  ke divisi produksi SUV, yang merupakan jenis kendaraan yang meliliki daya tarik yang lebih besar di pasar global.

Rencananya, Mazda Motor akan fokus mengembangkan model kendaraan penumpang tujuh kursi kelas menengah, antara lain CX-5 yang akan segera dijual setelah 2018.

Permintaan minivan sebagai mobil keluarga mencapai puncaknya di Jepang pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Namun kemunculan SUV, yang menawarkan kenyamanan dan kesenangan dalam berkendara, menggerus popularitas minivan sebagai kendaraan berkapasitas besar.

Produsen mobil Jepang di level menengah tampaknya mengalami permasalahan sumber. Toyota Motor, misalnya, kesulitan untuk mempertahankan formasi kendaraannya di tengah meningkatnya persaingan bisnis.


Sementara itu, Mitsubishi Motors berencana mengakhiri pengembangan sedan Lancer dan saat ini membekukan program pengembangan model SUV Pajero. Sebaliknya, perusahaan tengah mendorong produksi kendaraan ramah lingkungan, dengan merencanakan rilis kendaraan hybrid pada tahun fiskal 2017.

Fuji Heavy Industries, produsen mobil Subaru, telah lebih dahulu memimpin konsolidasi merek kendaraan. Fuji telah menghentikan pengembangan kendaraan mini pada 2012. Sebaliknya pada saat yang sama, perusahaan melipatgandakan produksi SUV, segmen pasar yang menumbuhkan permintaannya di Amerika Utara dan Jepang. Fuji Heavy Industries menargetkan penjualan 954 ribu unit mobil di seluruh dunia pada akhir tahun buku 31 Maret 2016. (ags/ags)