Danareksa Prioritas Utama jadi Induk Perusahaan Bank BUMN

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Rabu, 02/03/2016 10:07 WIB
Danareksa Prioritas Utama jadi Induk Perusahaan Bank BUMN Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan Kementerian BUMN Gatot Trihargo (kedua kanan) menyebut usulan pembentukan holding bank BUMN sudah sampai meja Presiden Jokowi. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan PT Danareksa (Persero) diutamakan menjadi induk usaha (holding) perbankan pelat merah, dibandingkan dengan opsi PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Bahana PUI).

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Konsultan Kementerian BUMN Gatot Trihargo mengatakan proses pembentukan holding perbankan pelat merah masih terus berjalan dan sudah sampai di tangan Presiden.

“Proses masih berjalan. Sekarang sudah dalam usulan di rakortas (rapat koordinasi terbatas), kemarin disampaikan Bu Rini (Menteri BUMN),” ujarnya di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), kemarin.


Ia menjelaskan, pembahasan tersebut masih berada di tataran atas. Gatot menekankan bahwa yang dipentingkan adalah holding tersebut masih 100 persen dikuasai oleh BUMN juga, meskipun modelnya berbeda.

“Yang penting yang di atas itu 100 persen BUMN. Nanti modelnya investment company,” jelasnya.

Dalam hal ini, Gatot mengaku Kementerian BUMN lebih mengutamakan Danareksa sebagai holding perbankan. Sementara, Bahana PUI disebutnya bisa memperoleh peran selain holding perbankan.

“Kalau yang sekarang kita pakai Danareksa sebagai opsi utama. Kemarin kan dua. Sama saja, tapi Bahana bisa kita perankan untuk yang lain,” ungkapnya.

Sayangnya, Gatot enggan menjelaskan alasan pihaknya lebih menjagokan Danareksa dibandingkan dengan Bahana PUI. Ia hanya menyatakan hal tersebut sesuai dengan peta jalan (roadmap) yang telah disusun.

“Sesuai roadmap, nanti saham mayoritas bisa dipengang holding,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Asmawi Syam mengatakan manajemen tidak mempermasalahkan siapa yang nantinya menjadi holding. Ia mengaku perseroan siap mengikuti proses nantinya.

“Semua bisa saja menjadi holding. Semua memungkinkan, kami belum tahu. Tapi kami siap mengikuti proses. Danareksa termasuk calonnya, ya kami siap ikuti saja,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian BUMN menargetkan holding perbankan pelat merah terbentuk pada 2018. Pembentukan holding ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat ekuitas bank BUMN.

Perusahaan induk bank BUMN, nantinya akan lebih fokus dalam menyinergikan infrastruktur teknologi (IT-Backbone) operasional perbankan pelat merah.

Sebagai contoh, dengan melakukan sinergi anjungan tunai mandiri (ATM) dan mesin electronic data capture (EDC) bank pelat merah.

Selain itu, perusahaan holding itu nantinya juga menginduki perusahaan switching ATM pelat merah. Pasalnya, switching company sesuai peraturan Bank Indonesia tidak boleh dimiliki oleh perbankan. Oleh karena itu, nanti yang memiliki kewenangan switching adalah investment holding.

Tak hanya itu sebagai perusahaan investasi, holding bank BUMN juga akan membantu dalam mencarikan dana murah yang akan disalurkan oleh bank pelat merah di bawahnya. (gen)