Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Nus Nuzulia Ishak mengungkapkan Indonesia memiliki daya tarik bagi investor asing pasca terbukanya pasar Asean. Dalam pertemuan itu, delegasi Slovenia berniat untuk menjajaki peluang bisnis dan investasi di Indonesia.
“Terbukanya pasar Asean membuat negara-negara di Eropa dan Amerika berlomba-lomba melebarkan sayap usahanya di pasar Asia Tenggara, tidak terkecuali Slovenia,” ujar Nus usai menghadiri pertemuan dengan delegasi Slovenia di gedung Kemendag, Jakarta, Jumat (4/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sektor yang menjadi target Slovenia dalam kunjungannya kali ini antara lain sektor energi, pengolahan kayu, transmisi elektronik, alat pertahanan, dan pengelolaan sampah.
Menurut Nus, sejak hubungan bilateral antara Indonesia dan Slovenia terjalin sejak 1992, kerja sama perdagangan antara kedua negara terus meningkat. Total perdagangan Indonesia dengan Slovenia tahun lalu tercatat sebesar US$106 juta atau meningkat 11,74 persen dari tahun sebelumnya.
“Kalau kita lihat total perdagangan dari Slovenia baru 0,4 persen dari total perdagangan Indonesia. Jadi harapan kami adalah bagaimana terus menerus melakukan komunikasi dengan pelaku bisnis dari Slovenia dan juga Indonesia,” ujarnya.
Saat ini, mitra dagang utama Indonesia di Eropa antara lain Belanda, Italia, Jerman, dan Spanyol. Sementara, mitra dagang utama Slovenia adalah Jerman, Austria, Kroasia, Italia , dan Perancis.
Tahun lalu, neraca perdagangan Indonesia dengan negara pecahan Yugoslavia itu menunjukkan surplus. Ekspor Indonesia ke Slovenia tercatat US$93,25 juta atau naik 12,88 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, impor Indonesia dari Slovenia tahun lalu hanya sebesar Rp12,78 juta atau naik 4,09 persen dari tahun sebelumnya.
Lebih lanjut, Nus menilai perekonomian Slovenia cenderung stabil dibandingkan negara-negara pecahan Yugoslavia lainnya. Pendapatan per kapita Slovenia termasuk yang tertinggi di Eropa Tengah.
Produk utama ekspor Indoesia ke Slovenia adalah karet alam dengan nilai US$49,57 juta atau setara dengan 53,16 persen dari total ekspor Indonesia ke Slovenia (53,16 persen); batubara senilai US$12,08 juta (12,96 persen); senyawa amino sebagai oksigen dengan nilai US$5,2 juta (5,58 persen); kertas dan karton tak dilapisi dengan nilai US$3,79 juta (4,07 persen); dan komponen untuk perekam dengan nilai US$1,69 juta (1,81 persen).
“Slovenia, bisa dijadikan target baru negara tujuan ekspor untuk beberapa komoditas. Misalnya, furniture, saya kira Indonesia cukup bagus, kemudian, kertas dan produk turunan kertas,” ujarnya.
Di sisi lain, produk utama impor Indonesia dari Slovenia didominasi oleh produk logam dan manufaktur seperti rolling mills dari logam dengan nilai impor US$2,49 juta atau setara dengan 19,48 persen dari total impor Indonesia dari Slovenia (19,48 persen); mesin cuci piring senilai US$1,73 juta (13.59 persen); dan keran pipa sebesar US$1,05 juta (8,2 persen). (gen)