Genjot Angka Ekspor, Pemerintah Poles 'Citra' Kopi RI

Diemas Kresna Duta, CNN Indonesia | Jumat, 08/04/2016 18:15 WIB
Genjot Angka Ekspor, Pemerintah Poles 'Citra' Kopi RI Menteri Perdagangan Thomas Lembong di Istana Negara, Jakarta, Senin, 21 Desember 2015. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan akan terus menggenjot besaran ekspor Indonesia yang tahun lalu telah menyentuh angka US$1,19 miliar atau berkisar Rp15,5 triliun.

Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengatakan, guna meningkatkan ekspor kopi Indonesia ke luar negeri pemerintah akan berupaya membenahi strategi promosi dengan lebih mengedepankan dan memperkenalkan Indonesia sebagai salah penghasil kopi kualitas tinggi di dunia.

"Kami memang mencoba untuk membenahi 'branding' dan 'marketing' kopi Indonesia. Berdasarkan pengamatan Kementerian Perdagangan, kopi kita biasanya dipasarkan sebagai kopi Sumatera, Sulawesi, Toraja, Bali dan lainnya, namun tidak ada Indonesia-nya," kata Thomas di Jakarta, Jumat (8/4).


Selain memperbaiki strategi promosi, Thomas bilang pemerintah juga akan terus menghimbau pelaku usaha khususnya eksportir kopi asal Indonesia untuk memasarkan kopi Indonesia terlebih dahulu, baru setelahnya wilayah penghasil kopi-kopi berkualitas.

Ini dimaksudkan agar popularitas kopi Indonesia bisa kian tenar di pasar kopi dunia.

"Jadi kita mau mengedepankan Indonesia terlebih dahulu, itu penting untuk nation branding," katanya.

Thomas menjelaskan, saat ini komoditas kopi merupakan salah satu produk andalan Indonesia yang berorientasi ekspor.

Sebagaimana diketahui, tahun lalu ekspor kopi Indonesia ke pasar dunia menembus angka US$1,19 miliar atau mengalami pertumbuhan sebesar 15 persen dari tahun sebelumnya.

Dari nilai tersebut, Amerika masih tetap menduduki peringkat pertama negara tujuan ekspor kopi Indonesia dengan nilai US$281,15 juta dengan pangsa pasar mencapai 23,47 persen.

"Ekspor kopi kita meningkat disaat ekspor nonmigas mengalami penurunan sebesar 14 persen. Namun memang haru lebih diorganisir dengan baik, meliputi marketing, branding, dan promosi. Saya kira keikutsertaan Indonesia pada SCAA adalah salah satu upaya penting untuk memperbaiki branding kita di pasar internasional," tutur Thomas.

Berdasarkan data yang dilansir UN Comtrade pada 2014, Amerika Serikat merupakan negara importir kopi terbesar kedua di dunia dengan nilai US$5,88 miliar, atau setara 19,10 persen dari total impor dunia. Nilai tersebut meningkat 10,48 persen dibanding tahun sebelumnya.

Dari nilai tersebut, sebesar 81,23 persen merupakan kopi biji tidak digongseng, sementara 10,15 persen merupakan biji kopi digongseng, dan 7,66 persen kopi biji tidak digongseng tanpa kafein. (dim/dim)