Kendati wacana ekspor ada di depan mata, Direktur Pengolahan Pertamina, Rachmad Hardadi mengatakan sampai saat ini perusahaan belum punya negara tujuan ekspor yang akan disasar. Hal itu akan ditentukan setelah Pertamina melihat kondisi harga BBM saat ini.
"Tentu kami akan cari negara yang memiliki harga yang bagus," jelas Rachmad di Jakarta, kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu juga terlihat dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), di mana penjualan solar Pertamina hingga kuartal I tahun ini tercatat sebesar 2,92 juta kl. Angka ini anjlok 11,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,29 juta kl.
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan berlebihnya pasokan solar dalam negeri juga disebabkan oleh adanya mandatori biodiesel B-20, yang sekiranya juga bisa mengurangi kebutuhan solar sebesar 2,5 hingga 3 juta kl per tahunnya. Bahkan, hal itu membuat perusahaan akan menghentikan impor solar di tahun ini.
"Kalau surplus, 2016 saya kira kami tidak akan impor BBM solar lagi. Apalagi sudah ada mandatori B-20 juga," jelas Dwi di lokasi yang sama.
"Tapi pertama kelebihan produksi itu akan dikonversi dulu ke smooth fluid, dan itu untuk keperluan drilling karena harganya bisa lebih mahal. Namun kalau nanti masih ada kelebihan, akan kami ekspor," ujarnya. (gir)